Showing posts with label Seminar. Show all posts
Showing posts with label Seminar. Show all posts

Saturday, August 02, 2008

Johanna Kodoatie bagi-bagi ilmu



PPI JCU kembali menggelar acara forum diskusi ilmiah yang juga dihadiri masyarakat Indonesia di Townsville. Tepat 1 hari menjelang kepulangannya, alumni PPI JCU mantan Presiden PPI JCU 2005 Johanna Maria Kodoatie menyempatkan diri untuk berbagi waktu dan ilmu memberi seminar mengenai "Efektivitas dan efisiensi distribusi minyak tanah bersubsidi" dan "Kajian instrumen kebijakan fiskal dalam rangka mengatasi climate change". Menarik dan mengundang ide serta diskusi diantara para peserta seminar. Keduanya merupakan penelitian kerjasama antara FE UNDIP bekerjasama dengan Badan Kebijakan Fiskal Kementrian Keuangan RI. Well done Johanna ..!!

Selamat jalan Mba Jo, have a safe trip to Indonesia.
Terima kasih atas kontribusi yang telah di berikan selama waktumu disini ditengah kesibukan.
Kami akan merindukan suara merdu mu, Mba.
Sukses !!

Photo: Dian

© PPIA-JCU

Wednesday, February 27, 2008

Indonesia Market Intelligence Seminar


Mr Philip Oakley berdiri paling kiri, Dian dan Gustaf bersama Ibu Isla dan Mr Tony kedua dari kanan; peserta Seminar yang merupakan representatif dari School di JCU atau Colleges di Townsville juga ikut berfoto





Lagi-lagi Townsville diguyur hujan namun Raintree Room-University Hall di James Cook University menjadi hangat saat perbincangan santai berlangsung usai Indonesia Market Intelligence Seminar. Isla Rogers-Winarto dan Tony Mitchener menjadi panelist dalam acara yang di-support oleh Queensland Government-Queensland Education and Training International, Trade Queensland. Ibu Isla Rogers-Winarto berbicara tentang: The Market Update – International Education opportuniities: trends, competitor activity, in-country program developments. Sementara Mr Tony Mitchener membawakan topik: A Queensland Response: Observations from a Queensland perspective; synergies, models for success. Mr Philip Oakley (Study Townsville Chair) bertindak sebagai moderator dalam diskusi panel: Various issues related to marketing Australian education in Indonesia, issues affecting Indonesian students in Australia, Indonesian perceptions of Australia, the way forward.

Ibu Isla adalah Country Director Indonesia untuk IDP Education Indonesia sedangkan Mr Tony Mitchener adalah Commissioner dari Queensland Government-Trade and Investment untuk Indonesia Office di Jakarta. Kami berbincang tentang suka duka kami belajar di JCU, alasan yang mendorong kami belajar di JCU, kehidupan sosial dan akademik. Ibu Isla menjelaskan peran IDP Indonesia dalam memberikan pelayanan pendidikan untuk membantu calon-calon pelajar Indonesia yang berminat menimba ilmu di Australia; khususnya di James Cook University yang berlokasi di wilayah tropis beliau juga mengungkapkan potensi JCU menjadi tempat studi yang memiliki nilai kompetitif 'tropika' yaitu ilmu-ilmu yang berkaitan dengan iklim tropika Indonesia yang akan lebih applicable untuk kondisi alamiah Indonesia yang langsung disetujui Mr Tony.

© PPIA-JCU

ditulis oleh: Dian photo by: Gustaf

Wednesday, September 26, 2007

Pssstt.. jangan bilang pasien 'kabur' tapi...

--a-b-s-c-o-n-d-i-n-g--- itu jawabannya menurut Master kita Intansari Nurjannah di Exit Seminarnya.. berikut abstract-nya..

Title: Patient absconding from a psychiatric setting in Indonesia: a case study

Intansari Nurjannah*
Mary FitzGerald**
Kim Foster***

Absconding from mental health services is a phenomenon that has increasingly caught the attention of nursing researchers in Western countries. This phenomenon also occurs in psychiatric hospitals in Indonesia. However, this is not a topic that has received a great deal of attention in terms of research in Indonesia.

The aim of the study is to provide a profile of absconding events over a one-year period in one mental health institution. The objectives of the study are to:

identify demographic patterns associated with all absconders from the Institution during a one year period;
describe the experience of patients and nurses related to incidents of absconding;
identify the contextual factors that promote and obstruct absconding behaviour; and
discuss the ways in which absconding events in this case differ or are similar to reports of absconding in the West.

A case study using mixed methods has been undertaken in order to provide a profile of absconding events over a period of one year in a psychiatric hospital in Indonesia. Data included: a one year audit of absconding events, a period of observation and interviews with patients and nurses.

Over a one year period of data collection 133 absconding events were recorded that involved 106 patients. The predominant patterns of people who abscond are young male patients with a history of previous admission. Most patients return to the hospital on the day of absconding. This information is consistent with findings in the West.

Sixteen patients who absconded during a seven months period of data collection were interviewed. Three themes were identified: ‘The call to home’, ‘Hopes and realities’ and ‘Us and them’. All these themes link to the process of recovery. ‘The call to home’ and hoped for happier life considered as the first step for recovery process. ‘The call to home’ was the result of patient’s eagerness to have connection with their community and to feel safe. Patients hoped to experiences a happier life however most of their hopes are dashed as they failed to reach home or their family sent them back to hospital. The last theme was ‘Us and them’ in which the patients describe the differences between them and others and the consequence of the differences which form a barrier for developing and growing to be recover and also creates negative feelings.

Observations and interviews with 24 nurses revealed a style of nursing that is custodial rather than therapeutic. The days are filled with routine duties and opportunities to prepare patients for discharge as important part of recovery process are missed. The nursing staffs are disappointed with the attitude of the community to people with mental health problems and believe that families are responsible for patients once they are ready for discharge.

The majority of patients who absconded from the hospital in this study were ready for discharge and awaiting collection by their family as they were considered to be in the process of recovery. It appears that there is little adequate support for patients who are ready to be discharged from hospital. It is not unusual for patients who have absconded to be brought back to hospital again by their family if they are not well received in the community.

Short term recommendations centre on the rehabilitation focus and activities in the hospital, nurses should become more involved with interventions that are appropriate in rehabilitation processes and see it as an integral part of discharge planning. In the longer term nurses require resources to support their education and the implementation and evaluation of person centered models of care. Strategic plans should be implemented to change public attitude towards people with a mental health problem. Further research on this topic is required to understand community attitudes and test alternative models of nursing care.


© PPIA-JCU

Tuesday, September 25, 2007

Intan sang suster

bersama sang putra2 tercinta dan sang supervisor Prof Mary FritzGerald

Menjadi orang gila memang menyakitkan. Kekurangpahaman keluarga sendiri dan masyarakat membuat mereka makin terpuruk. Terisolir bagaikan orang buangan. Parahnya lagi konsep penanganan yang dilakukan selama ini terasa sebagai penjara sehingga pasien rumahsakit jiwa tak jarang melarikan diri. Hal diterjemahkan oleh pihak rumahsakit sebagai tindakan "absconding". Kepedulian akan fenomena ini mencemaskan Intansari Nurjannah untuk mencoba menguak, ada apa sebenarnya dengan mereka? Puluhan pasienpun didekati Intan dengan resiko dimarahi dan dicibiri. Beberapa kalimatpun tercetus: aku ingin pulang tapi mereka tak mau menerima. Kenapa dokter tetap memberikan obat? Aku sudah sembuh. Kalau toh hanya obat kenapa aku tak minum di rumah saja? dan lain-lain yang mengusik hati.

Dari dua tahun penelitian, Intan berhasil melewati MSc exit seminar dengan judul penelitian: Absconding from a psychiatric setting in Indonesia: a case study. Sangat terasa masih adanya gap pengertian antara masyarakat dan para professionals tentang pelarian yang diterjemahkan oleh para pasien sebagai sebuah perjalanan ke arah kebebasan. Sebuah formula baru ditawarkan Intan dengan membawa psycho-education kepada keluarga, masyarakat bahkan juga dokter dan perawat yang menangani mereka. Hal ini tak lain untuk mengubah konsep berpikir mereka terhadap orang yang dianggap kelainan jiwa.

Good job, Intan... Dan jangan lupa salah satu rekomendasi untuk studi lanjut ke level yang lebih tinggi!

© PPIA-JCU

Icha, Batman dan Dolphins


Siapa bilang tak ada hubungan antara Batman dan lumba-lumba? Putu Liza Kusuma bisa membuktikannya. Beberapa dialog dalam komik Batman tentang lumba-lumba muncul dalam presentasi konfirmasi PhD seminar perempuan Bali yang biasa dipanggil Icha. Diapun dengan senangnya bisa dipanggil Tara. Presentasi ilmiah yang dikemas dengan santai membuat suasana mengalir dan menyenangkan. Toh tak membuat Icha untuk tetap tidak mengeluarkan gurauan bahkan quiz-nya.

Topik yang diangkat Icha adalah: Towards Sustainable Dolphin-Watching Tourism in Bali, Indonesia. Sebuah industri potensial di samping beragamnya industri pariwisata lainnya yang mulai diminati. Dua tempat di Bali menjadi titik penelitian Icha: perairan Lovina di Bali utara dan Jimbaran di Bali selatan. Dengan mengusung konsep Quadruple bottom line sustainability dengan perpaduan ekologi, ekonomi, sosial dan manajerial sebagai indikator penilaiannya, Icha mengharapkan bahwa kajian ini akan menciptakan sebuah konsep pariwisata yang berdasarkan alam yang merupakan intisari dari perpaduan pariwisata petualangan(adventure)-kehidupanliar(wildlife)-ekoturisme. Good luck, Cha!

© PPIA-JCU

Kelapa Sawit dan Noto Prabowo

Bicara kelapa sawit tak lepas dari kontribusinya dalam perekonomian Indonesia dan juga hubungan-eratnya dengan kebutuhan masyarakat. Tujuh belas Agustus lalu, saat orang lagi sibuk dengan kegiatan tujuhbelasan, nun di utara Queensland tepatnya di kota Cairns, Noto Prabowo malah "sibuk" dengan bagaimana meyakinkan proyek penelitian PhD nya kepada panelis dan pengunjung tentang bagaimana pengelolaan perkebunan kelapa sawit ditinjau dari penggunaan pupuk dan pemilihan lokasi. Topik penelitiannya adalah: Reasons for differences in nutrient use efficiency of oil palm between sites in Sumatra
Penelitian yang memilih lokasi di Sumatra ini ditujukan untuk mengoptimalkan produksi kelapa sawit dengan memperhatikan suplai nutrien yang efisien.

pic source: http://www.nakertrans.go.id/statistik_trans/KLIPING/Des05/13kelapa.gif

© PPIA-JCU

Friday, September 21, 2007

Rest in peace, poor possum!

reporter: Putu Liza/Icha

Komunitas JCU Townsville geger hari ini karena internet sistem kampus down lepas jam makan siang (untungnya setelah Icha confirmation seminar!). Ternyata, usut punya usut, akar masalahnya adalah seekor possum yang nyasar ke domain panel utama powerboard internet dan terperangkap, tersetrum, dan menemui ajalnya di sana.

Alhasil, petugas IT JCU harus mengeluarkan si possum yang malang dan melakukan total shut-down system sehingga satu kampus geger semua karena tidak bisa kirim email (termasuk Mami supervisor Icha--Prof Helene Marsh....). Setelah bekerja keras sesiangan, sore ini sistem email dan internet JCU berhasil mengudara kembali. Semoga saja tidak lagi terulang peristiwa yang mengenaskan ini... dan semoga sang possum sekarang beristirahat dengan damai. Bagaimanapun, khususnya Icha, harus berterima kasih karena sang possum memutuskan untuk masuk ke dalam panel internet setelah Icha selesai seminar... sehingga teleconference bisa berlangsung dengan Cairns.

Rest in peace, our dear cute possum...

Pic: stucked possum from another place, another time

© PPIA-JCU

Monday, July 30, 2007

Farida si penjinak polong

Kali ini Farida Damayanti yang membawakan MSc confirmation seminar. Tak kalah dengan ahli tumbuhan lain, dia membeberkan tentang keunikan yang dimiliki salah satu anggota polong-polongan Vigna vexillata. Ternyata jenis polong-polongan ini banyak manfaatnya selain mengandung protein yang tinggi (secara lengkap lihat tabel). Tak heran jenis ini juga menjadi bahan makanan di beberapa tempat di Indonesia dan juga Australia. Lokasi penelitian diambil dari kedua negara ini. Farida akan menjejak lebih jauh bagaimana mereka di cross-breed; liar vs yang dibudidayakan, bibit dari Bali (Indonesia) vs Australia. Goodluck, Farida!

NutrientValue per 100 g
Proximates
Energy178kJ
Moisture68.9g
Nitrogen0.37g
Protein2.3g
Fat1.0g
Ash1.8g
Available Carbohydrate0.0g
Total Dietary Fibre12.8g
Minerals
Calcium56mg
Copper0.100mg
Iron10.0mg
Magnesium107mg
Potassium565mg
Sodium10mg
Zinc1.7mg
Vitamins
Niacin derived from Tryptophan or Protein0.4mg
Niacin Equivalents0.4mg
source: http://www.foodstandards.gov.au/

© PPIA-JCU

Sunday, July 15, 2007

Mas Pram dan Burungnya…

Setelah lebih dari tiga tahun merantau di Cairns, North Queensland Australia, dan menjalani field research termasuk me-nongkrongi atap bangunan (juga candi Prambanan?) mas Pramana Yuda (tergantung bacanya gaya Sunda, Jawa, ato Bali) akhirnya kelar melaksanakan exit seminarnya tentang Ecology and conservation of the Java sparrow (Padda oryzivora) hari Selasa, 10 Juli 2007 yang lalu. Saya dan Dian dengan semangatnya datang ke room DA 009 - 001 di kampus Townsville... dan menemukan bahwa yang datang ternyata cuman kita berdua, plus mantan supervisornya mbak Miki (Prof Ross Crozier). Ya wis, bertiga ya bertiga menikmati teleconference dari Cairns di Townsville (yang di ruang conference Cairns sih ramai).

Presentasi mas Pram tentang sang burung Gelatik Jawa (yang rajin ‘sembahyang Maghrib’ hehe...) sangat menarik, terutama dari sudut pandang conservationist kayak saya. Dan saya harus akui, saya salut dengan powerpoint mas Pram yang bersih, enak dibaca (hurufnya besar, dan tidak menuh-menuhin layar) dan renyah isinya. Plus, kata Madam President Dian Latifah, mas Pram pake baju batik kebangsaannya.



Segala genetik, saya ga usah bahas ya. Ora dhong detile. Tapi yang jelas penelitiannya mas Pram menemukan bahwa sang burung gelatik jawa yang nama latinnya Padda oryzivora ini ternyata berasal dari satu dua kawasan yang berdekatan di Prambanan dan sekitarnya, dan pada masa inter-glacial terakhir menyebar ke tempat-tempat lain, walaupun masih di Jawa saja (Bali ada ya? Lupa saya... ga ada pptnya sih...). Status konservasi sekarang vulnerable, dan terancam bisa ‘upgrade’ ke endangered kayaknya, kalo perburuan demi menyenangkan hati para pecinta sangkar dan burung dalam sangkar tetap berlanjut seperti sekarang (On that note, saya sempat menyanggah mas Pram bahwa strateginya sebaiknya adalah mendidik para pecinta burung sangkar itu, bukannya memasukkan gelatik jawa dari Kalimantan – yang kayaknya migrasi ke sana karena dibawa orang...).


In any case, excellent presentation. Detilnya minta mas Pram, sebelum beliau balik ke Indonesia dan kehilangan akses broadband extra cepat... hiks! Dan belajar dari mas Pram cara buat presentasi yang enak dipandang mata, dan tidak nyumpek2in pemirsa karena kebanyakan huruf. By the way, saya senang dengan referensi perangko-perangko dari segala penjuru dunia yang menggambarkan gelatik jawa (buset, ngetop juga tuh burung!) dan juga tentang Jepang, bahwa orang Jepang ternyata mengadopsi sang gelatik jawa dalam lukisan-lukisan mereka. Aduh, lutuna....lutuna... (baca: Lucunya).

.. dan tepat pada tanggal peluncuran catatan Putu Liza ini.. Mas Pram beserta keluarga terbang bersama burung baja "Java Sparrow" kembali ke tanah air tercinta.. di email terakhir Mas Pram sebelum berangkat dari Cairns.. Mas Pram missed much many Javanese-local foods..

Pic 1: Java Sparrow, dari sini

Pic 2: Mas Pram seminar, dari Dian Latifah

Pic 3: ukiyo-e (Japanese painting), oleh Ryuu Shimazazi ("Java Sparrow"), 1912 dari sini


© PPIA-JCU

Thursday, July 12, 2007

Dia datang tak bicara tentang bencana yang akan datang karena dia bukan seorang paranormal, namun dia berbicara akibat dari bencana. Indonesia yang rentan akan bencana mengakibatkan ketakseimbangan ekologis bisa terjadi di berbagai tempat. Contoh sederhana namun kasat mata adalah: bertumbangnya pepohonan akibat bencana! Efek ekologisnya jelas; mulai dari kehilangan habitat bagi sebagian organisme penghuninya sampai pada bencana susulan seperti erosi dan banjir. Pertanyaannya: seberapa cepatkah ekosistem yang rusak itu bisa recover? Bagaimana struktur populasinya? Sejauh manakah bencana itu mempengaruhi sebaran bibit? Pertanyaan-pertanyaan ini sebaiknya diarahkan kepada seorang Dian Latifah. Dengan mengambil studi kasus areal terjangan Cyclone Larry di tahun 2006 pada sebaran beberapa jenis palem, Dian Latifahpun menghipnotis penguji dan pengunjung dalam PhD Confirmation seminar yang dilaksanakan tanggal 20 Juni lalu. Topiknya adalah: Population structure and regeneration of palms (Arecaceae) in response to cyclone disturbances North Queensland, Australia. Diapun menyatakan bahwa struktur populasi yang ditelitinya malah bukan saja karena cyclone, namun akan dikembangkan dengan meneliti faktor lain yang mendukungnya seperti peran burung Kasuari (Cassowary, genus Casuarius) dalam sebaran benih.

Good luck Ibu presiden!


© PPIA-JCU

Saturday, July 07, 2007

Adalah langkah yang bijaksana bila ada yang bermasalah dengan reproduksi datang berkonsultasi kepada seorang Jacob Uktolseja. Reproduksi yang dimaksud adalah reproduksi ikan. Jumat, 6 Juli 2007 Jacob berhasil menempuh PhD exit seminar dengan keyakinan yang luar biasa. Topik yang ditelitipun tak kalah luar-biasanya:
Effect of nutrition on the reproduction of male Barramundi (
Lates calcarifer, Bloch),
yang intinya mencari formula yang tepat untuk meningkatkan reproduksi dari pejantan Barramundi.

© PPIA-JCU

Monday, May 28, 2007

Tentang Tenancy, apa hak dan kewajiban kita?

Pertemuan kali ini bersifat lebih serius, karena topiknya serius: Sustainable Tenancy, Rights and Responsibilities for Newly Arrived Migrants and Refugees. Topik yang sangat berhubungan dengan yang dialami oleh students selama ini: sewa rumah. Tak banyak yang mengetahui hak dan kewajiban tenants dalam kegiatan sewa-menyewa rumah ini antara landlord atau agen dengan student dan keluarganya. Kegiatan ini sendiri digagas oleh Townsville Multicultural Support Group Inc (TMSGI) dan bekerjasama dengan PPIA-JCU. Ibu Kasma Hem & Rahila Talic mewakili TMSGI, bersama mereka turut juga Jenny King dari Residential Tenancies Authority (RTA) sebagai inviting speaker khusus memberikan advokasi tentang bagaimana hak students terhadap tekanan yang bisa saja datang dari agen atau landlord.

Setelah perkenalan singkat, acarapun berlangsung singkat, namun berbobot. Mbak Kasma memaparkan garis besar bagaimana memulai tenancy sampai mengakhirinya, dengan berapi-api. Tanya jawab diladeni oleh Jenny King dan mbak Kasma mulai dari masalah agen/landlord yang masuk tanpa pemberitahuan sampai yang lebih parah yaitu dengan mengeluarkan tenants secara tiba-tiba. Namun, hal yang menyangkut syarat calon tenant untuk mendapatkan rumah yang diinginkan masih merupakan rahasia si agen atau landlord walaupun beberapa kondisi terpenuhi, begitu kata Jenny. Hal ini terangkat karena masalah mendapatkan tempat tinggal bagi orang asing merupakan masalah yang utama selain ”kesewenangan” agen atau landlord.

Melewati topik yang serius membuat perut lapar. PPIA mengucapkan terima kasih buat TMSGI yang telah menyiapkan makanan yang lezat. Di akhir acara, keluarga Gavin Lee bergabung merayakan ulang tahun anaknya, Chiquita. Lengkaplah sudah kegembiraan keluarga PPIA hari ini. Selamat Ulang Tahun Chiquita!


create your own slideshow



© PPIA-JCU

Friday, March 09, 2007

Desni, Avian & Newcastle

Dengan mengantarkan topik penelitian: Molecular epidemiology of Avian influenza and Newcastle disease using samples collected and transported without a cold chain, Desni menawarkan metode lain dalam mengoleksi dan mengirim sampel tanpa cold chain yang notabene mahal. Metode ini diharapkan juga dapat bekerja optimal terutama dalam mempertahankan kondisi RNA virus agar tak terdegradasi dalam proses pengiriman baik dari segi kepraktisannya maupun biayanya. Dengan taktis Desni memaparkan beberapa tawaran metoda yang nanti diuji dengan menggunakan suhu yang berbeda. Tapi, akhirnya diskusi lanjutan bukannya membahas segi kepraktisan dan keampuhan metoda namun di luar dari itu, melainkan misalnya: apakah anda yakin bahwa virus ini akan melewat karantina? ... Dengan senyum khas, Desnipun menjawab: bila ada negara lain seperti Vietnam bersedia, mengapa tidak?

Confirmation seminar ini akhirnya berakhir dengan foto bersama. Good luck, Des!

© PPIA-JCU

Thursday, February 15, 2007

Ghitarina-seorang "Ibu" yang "PhD"




Selama kurang lebih 2 jam, 15 February 2007, calon Doctor Ghitarina berhasil mempertahankan disertasinya tentang "The response of fish to sub-lethal levels of pollutants: Coenzyme Q redox balance as a biomarker" dan melayani tanya jawab dengan gemilang! Usai perhelatan Phd-Exit, dilanjutkan dengan farewell afternoon tea bersama supervisor dan rekan-rekan..

Hari ini juga.. Tentu saja menjadi detik-detik bersejarah untuk Ibu 2 orang anak ini. Hari demi hari yang telah terlewati yang terisi dengan membagi waktu dan kerja keras antara kesibukan sebagai PhD student bahkan harus bolak-balik ke AIMS dan seharian di lab dan aquarium dan kesibukan sebagai ibu rumah tangga, malah sempat menjadi Presiden PPIA 2004/2005.. akhirnya menjadi lembaran sejarah untuk dikenang dan diambil teladan..

Teriring doa semoga lancar untuk tahapan berikutnya: submission dan review hingga sukses menyandang gelar “Doktor” dan publikasi internasionalnya serta tercapai cita-cita kelak menjadi Guru Besar seperti ayahanda..


© PPIA-JCU

Nervouspun usai sudah bagi seorang Githarina

Semuanya terlewati sudah, kecuali submission. Namun setidaknya momen exit seminar telah mengambil lebih dari setengah kekuatiran dan kelelahan yang dialami selama ini. Kegembiraan ini tak lepas dari perjuangannya yang melelahkan, sampai pada suatu saat beliau sempat berkeluh kesah. Inilah keluh kesah beliau yang bertajuk "Ahhh.......!!!!"
Ahhh....ternyata S3 itu susah...apalagi untuk seorang Ibu yang punya 2 anak yang masih kecil seperti saya ini. Tiga tahun berlalu seperti sangat cepat...tapi kok serasa study ini jalan ditempat aja???. Capek...capek... otak n hati, n fisik. Pengen rasanya menyerah..tapi klo mengingat perjuanganku selama ini..kok..sayang sekali klo mesti mundur. Jauh jauh sekolah ke Australia sejak master (masih satu anak), hingga ngambil PhD ini, serasa sayang tuk dimandekkan...tapi ........
more at her blog

© PPIA-JCU

Saturday, March 18, 2006

mentas lagi

Foto ki-ka: Ani, Olga, Johana, Vina, Nur, Etha, Theisy, Mimi
Satu lagi pementasan dilakukan oleh Tim Kesenian "gado-gado" (gabungan students, spouses dan residents) pada sabtu malam 18 Maret 2006 dalam rangka Harmony Day yang jatuh pada tanggal 21 Maret nanti. Kegiatan ini disponsori oleh The Migrant Resource Center dengan mempromosikan budaya dari berbagai negara. Tema yang diangkat: YOU + ME = US. Kegiatan yang dilaksanakan di Riverside Convention Center, Aitkanvale juga diisi dengan acara makan bersama dan penggalangan dana. Pada acara kali ini yang ditampilkan adalah kombinasai tari Tortor dari Batak dan lagu Mama Jangan Marah Beta + Buka Pintu.

Foto kegiatan... sudah ada tapi baru sedikit...mo nambah? silakan...

Tuesday, March 14, 2006

Ketika bertemu polisi

Sabtu, 4 Maret 2006

Polisi Townsville yang dikomandani Officer Dave Dini bertemu dengan para anggota PPIA plus pasangan dan anak-anak plus beberapa residents, melakukan penyuluhan hukum: apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di mata hukum Australia. Penyuluhan ini menyegarkan dahaga informasi dari para pelajar dan residents dari masalah yang sangat kecil sampai masalah yang suangaat besar menurut pemahaman masing-masing penanya, tentunya. Dengan tangkasnya pak Polisi menjawab berbagai pertanyaan bahkan ada beberapa keluhan yang datang dari para penanya.

Acara ini diakhiri dengan makan bersama makanan nusantara plus acara perpisahan dengan mbak Wiwin dan keluarga yang pindah ke utara North Queensland. Selamat berjuang di utara sana mbak!

Foto kegiatan selengkapnya di: PPIA-JCU Yahoogroup dan di Fotki