Showing posts with label Indonesian Festival. Show all posts
Showing posts with label Indonesian Festival. Show all posts

Friday, April 03, 2009

Saman and Aboriginal Fusion Dance: an ethnic souvenir from Indonesian Festival 2008


© PPIA-JCU; Notes: aboriginal dancers are L-R Stephanie-Lilyana; Saman Dancers are L-R Annie Daryanie, Dian Latifah and Maulita Sari Hani (Chorreographer and IndoFest2008 Committee Coordinator)

Saturday, July 05, 2008

Indonesian Festival 2008




Indonesian Student Association of James Cook University - PPIA JCU and The Embassy of The Republic of Indonesia, Canberra proudly present IndoFest 2008, the annual event of the North Queensland Indonesian Festival. This is the celebration of the 63th Indonesian Independence Day. We are Promoting Tropical Indonesia in Tropical North Queensland by addressing the challenge of cultural diversity through the multitude of material and immaterial attributes of arts and culture as well as ecotourism potency of Indonesian nature. For more info about IndoFest 2008 please visit our website: http://indofest-northqueensland.blogspot.com/.




The Committee
Chairperson: Maulita Sari Hani
Secretary: Zainul Hidayah
Treasurer : Annie Daryani
Events : Etha Eldridge (Coordinator), Vina Birbeck,
Johanna Kodoatie, Nurhayati Oakley
Community Affairs: Dian Latifah
Catering: Aji Harlawati (Coordinator), Yuli Santoso,
Yanti Thoha, Fera Pattinasarany
Operational Manager: Lintang Adi Pradana
General Affair: Ardi Widiyanto, M. Lukman,
Yusuf Martyastiadi, Erwin Imam Santoso
Publication / Stage Manager:Gustaf Mamangkey
Transportation :Yansen Thoha, Warni Foster
Documentation :Daniel Stassen (Coordinator), Joshua Mark



Acknowledgment
It is a pleasure to thank a number of institutions who made this event possible. We are deeply sincere gratitude to The Embassy of the Republic of Indonesia in Canberra that has been supporting us for these current years by giving encouraging inspiration and grants for the event improvements. We also want to express our sincere thanks the Townsville City Council for giving us permission to commence this event, supported us with grant, and offered suggestions with regards to the event program developments. We wish to thank the other sponsors as well include James Cook University International Student Centre (JCU ISA), James Cook University Student Association (JCU SA), The Consulate General of the Republic of Indonesia in Sydney, The Australian Army, 4TO FM, Miss Sushi, and The Indonesian Community North Queensland for the grant support. We would like to give warm thank to LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), DKP (Departemen Kelautan dan Perikanan) Raja Ampat, PPIA (Persatuan Pelajar Indonesia Australia) Pusat - Canberra, and Riverway for the contributions made to the Indonesian Festival 2008. In addition, we also want to give our sincere gratitude to the guest performers: Alex Salvador from The Rhythm Connection, Stephanie and Lily from The Ngulumburu Boonyah, and Celli from The Filipino- Australian Affiliation of NQ, Inc. (FAANQ) for the outstanding performances in IndoFest 2008 adding more color to our event. Without the sponsors, partners, guest performers and the team work of committee, it would not be possible to achieve the success of Indonesian Festival 2008.

Warm greetings between the two nations Indonesia-Australia is reflected in the friendship remarks addressed by Cr Dale Last (Councillor of Townsville City Council) and Mr Edy Wardoyo
(Acting of Consulate General / Consul for Consular Affairs). Other representatives of The Indonesian General Consulate - Sydney are Mr Johhny Anwar Radjadin (Consul for Immigration Affairs) and Mr Fery Iswandy (Vice Consul for Protocol and Consular Affairs).

Photos:
http://ppiajcu.multiply.com/photos/album/34/Album_28_Indonesian_Festival_2008
http://www.flickr.com/photos/soundo_obuzz/
Photo courtesy: Yusuf 'G-peng' Martiyastiadi, Joshua Mark, Dian Latifah, M. Lukman

© PPIA-JCU

Thursday, April 17, 2008

Indonesiaku di perhelatan Food n Faith Festival JCU 2008

penyanyi PPI JCU: Dian-Icha-Eghy-Mitha (tampil dalam sesi pertama)

Dian dengan tari piringnya

Anak bangsa yang tengah berada lama di bumi negeri lain terkadang terdorong tuk meningkatkan ke-Indonesia-an nya. Rasa patriotik menguat, rasa cinta tanah air makin mendalam bahkan sering identitas keragaman Instansi atau tempat kerja makin menonjol. Menariknya hal ini sering muncul dalam hal-hal yang sederhana saja. Menilik semalam latihan sebelum perhelatan, grup musik PPI JCU berdebat memilih lagu. Indahnya persaudaraan anak bangsa dari Sabang sampai Merauke ini menjadi sebuah challenge yang menarik. Dian yang berasal dari Cirebon namun sepanjang waktu kehidupan studi dan kerjanya di tatar Sunda, harus memperjuangkan lagu "Manuk Dadali" masuk ke dalam list lagu2 yang dinyanyikan. Awalnya sih cukup beralasan memilih lagu ini karena memiliki makna "Bhinneka Tunggal Ika" penjelmaan Burung Garuda nan gagah lambang negara sebagai "Manuk Dadali" serta yang penting ada kata "Indonesia" plus tone/nadanya paling tinggi di antara lagu2 lain sehingga cukup mungkin untuk membahanakan "Indonesia" ah sudahlah.. saya tak berkomentar panjang lagi karena sudah cukup banyak celoteh kocak seputar lagu ini semalam:

-- ya ampun masih mending lagu bahasa Inggris dah daripada lagu Sunda ini..
-- duh mesti belajar vokalisasi dulu nih.. apa nih "aa--iiii'---uuu--euuuu-eeee" (gubrak..!!)
-- asyiknya ya lagu Indonesia Timur terutama Ambon yang bahasa nya sudah cukup Indonesia
-- harus menghapal seminggu dulu nih.
-- Dian.. nyanyi sana ama Teh Farida ama Akang Memed atuh..
-- Eghy sih enak cuma main gitar.. lah kita yang mangap-mangap nyanyi belibet neh lidah..
-- kesimpulannya: nggaaaaaak maaaaaaaauuu lagu mu Diaaaaaaaaaannn..

akhirnya kethok palu pun diambil: Eghy menggitar, dan hanya Icha dan Dian aja yang banyanyi mengingat Putu Liza sudah cukup familiar juga dengan bahasa Sunda maklum do'i satu kuliahan satu angkatan ama Dian di IPB (Bogor West Java).

ingin tahu syairnya? :

MANUK DADALI
(we give credit to the author)

Mesat ngapung luhur jauh di awang awang
Meberkeun janjangna bangun taya karingrang
Kukuna ranggaos reujeung pamatukna ngeluk
Ngepak mega bari hiberna tarik nyuruwuk

Saha anu bisa nyusul kana tandangna
gadang jeung partentang taya bandingan nana
Dipikagimir dipikaserab ku sasama
Taya karempan ka sieun leber wawanenna

Manuk dadali manuk panggagahna
Perlambang sakti Indonesia jaya
Manuk dadali pang kakoncarana
Resep ngahiji rukun sakabehna

Hirup sauyunan tara pahirihiri
Silih pikanyaah teu inggis bela pati
Manuk dadali gadung siloka sinatria
Keur sakumna bangsa di nagara Indonesia


Perhelatan pun usai; lengkap menampilkan Indonesia, dari mulai ayam panggang Mbak Yuli-Erwin, nasi goreng Mba Yanti-Yasen (plus dekorasi khas Indonesia nya), penampilan tari piring (Dian Latifah)dan lagu daerah (Eghy gitaris, Mitha-Dian-Putu Liza) plus tari India Klasik by Putu Liza dan Duet Eghy-Icha menyanyikan'Don't Sleep Away by Daniel Sahuleka Ambon Manise.

Acara Food and Faith Festival ini diadakan tiap tahun oleh Chaplaincy JCU dan JCU Student Association. Acara ini sebagai ujud appresiasi dan upaya meningkatkan salingkepahaman antar multifaith di lingkungan kampus JCU sebagai konsekuensi memberikan lingkungan studi dan kehidupan kampus yang nyaman bagi International Students di JCU; mengingat mereka biasanya berasal dari berbagai negara dengan fondasi faith and culture yang kuat. Di perhelatan ini appresiasi dan upaya understanding antar Faith tersebut dikemas dalam ujud perhelatan yang menyajikan aneka ragam food dan culture sebagai atraction.

Berkeinginan mengusung satu lagu bahasa Inggris dan kebetulan penyanyinya Daniel Sahuleka (Ambon manise Indonesian) berdentinglah gitar mengalunkan lagu.. "Don't Sleep Away" .. 'problemnya adalah..' (Gustaf, 2007).. Gustaf pun did not sleep away yet waiting her wife at Wandella enjoying the song but merepotkan Gustaf berburu syair lagu ini sekaligus menelponkannya pada Putu Liza.. "aduh.. kalimat nya romantis gini tak dibacakannya dengan romantis oleh Gustaf.." (Putu Liza, 2008).

dilaporkan oleh: Dian Latifah

© PPIA-JCU

Thursday, March 20, 2008

Presiden baru terpilih Bung Egy di arena Harmony Day

Bung Egy sang Presiden terpilih bergambar dengan Dian (mantan Presiden) dan Icha (Pimpinan tertinggi AGM sekaligus Ketua Presidium); terimakasih untuk rekan-rekan PPIA JCU atas support dan dukungannya sehingga Harmony Day menjadi our Harmony

Stand Indonesia, mantan Presiden Dian dan mantan Sektretaris Lita memberikan 'tanda mata' masakan nasi goreng dan ayam kecap kepada Presiden baru Bung Egy


penari Lita-Ani, para penonton beberapa kali terpukau dengan aksi atraksi mereka

Meski wajah beberapa orang tampak lelah karena ada 2 peristiwa besar di satu hari yang sama tapi we all embraced Harmony Day, 20 Maret 2008, yang diselenggarakan JCU SA. Apalagi di ajang ini Presiden PPIA JCU yang baru saja terpilih, Agapery Pattinasarany akrab dipanggil 'Bung' Egy, turut hadir memberi support. Yang unik Presiden baru nggak kebagian nasi goreng bikinan mantan Presiden karena terlambat mengantri.

More photos

dilaporkan oleh: Dian

© PPIA-JCU

Monday, September 03, 2007

JCU Open Day 2007

Tanggal 2 September 2007, James Cook University melakukan Open Day besar-besaran. Pihak JCU ingin menarik minat sebanyak-banyaknya dari berbagai elemen masyarakat untuk kuliah di universitas ini dengan menawarkan sebuah konsep proyek raksasa untuk pengembangan JCU ke depan yang diberi nama: Discovery Rise. Sebuah paduan apik yang menawarkan tempat studi sekaligus tempat tinggal dan ajang sosialisasi yang unik, nyaman dan modern. Tergambar bagaimana semua elemen di setiap fakultas memberikan yang terbaik bagi pengunjung tanpa memandang level usia. Di sekitar tempat ini juga disediakan fun area untuk anak-anak dengan tujuan memberikan pengenalan sains bagi mereka sejak dini.

Pelajar Indonesia sebagai bagian dari komunitas JCU bersama pelajar dari beberapa negara di dunia ini mendapat tempat utama khusus menyajikan makanan khas Indonesia. Momen ini tidak disia-siakan oleh pengurus PPIA dengan menyajikan berbagai macam makanan khas. Tak ayal, tempe goreng, lumpia, panekuk, dan berbagai macam makanan gorengan serta kue basah lainya turut mewarnai meja jualan PPIA. Sebagian penganan ini disiapkan sejak malam sebelum acara oleh mbak Win, Puji, Lita dan Thessy. Arena ini digawangi Dian dan Icha (Presiden dan Sekretaris PPIA) bersama mbak Umi, salah seorang warga Indonesia yang begitu cekatan dalam menyiapkan segala penganan gorengan. Lita juga turut menjaga stand promosi Indonesia dengan menawarkan brosur dan leaflet tentang Indonesia. Tak segan-segan dia berjalan mengitari arena dengan membawa kue dan brosur. Alhasil, dengan paduan kerjasama ini, tak jarang berdatangan decak kagum akan kelezatan makanan, ramahnya pelayanan dan promosi Indonesia yang datang dari para pengunjung. Kegiatan ini juga akan jauh dari sukses bila tak ditopang oleh keluarga Pak Muslimin, Lintang, Zen dan para punggawa PPIA serta masyarakat Indonesia di Townsville-Thuringowa. click for more PHOTOS

© PPIA-JCU

JCU Open Day 2007 and promoting Indonesia

Hanya berjarak seminggu saja dari Indonesia Festival.. Pelajar Indonesia dengan support residen kembali promoting Indonesia lewat "Indonesian foods" di arena akbar tahunan James Cook University JCU Open Day, Minggu 02 Sept 2007 pukul 10.00-14.30, Refectory/Canteen area - Student Mall - kampus JCU Douglas, Angus Smith Drive - Townsville.

Mbak Windarti (alumnus JCU 1991-1993) yang dijemput 2 orang baik PPIAers Farida dan Mas Memed di Townsville Airport alias baru sehari menghirup udara Townsville sigap memasakkan spring roll dan bihun goreng dibantu oleh ketrampilan Jheng Puji dan Jhe-Lita yang juga semangat belanja-belanja perlengkapan dan bahan.. Putu "Brownies" Liza memamerkan keahliannya yang belakangan ketahuan berpikir keras mengeraskan "es krim"nya saat berjualan.. Thesy Legi Mamangkey unjuk ke-ijo-annya dengan menampilkan "pancake" (baca: pan-ekuk) ala Manado.. tak lengkap tanpa aneka masakan tempe-tahu plus adegan demo memasak oleh Mbak Umi Muslim Samelan.. sementara setting up meja dan perlengkapan dikomandani Lintang-Zinul..

Dengan keahlian para penjual: Mbak Umi, Dian, Lita dikomandai Putu "Brownies" Liza yang mantap abiz gaya jualannya (padahal kata Icha ini pengalaman pertamanya) dan.. woiiiu fun..! ludezz abizzz..!! apalagi sejoli "jualan" Mpok-Abang Lita-Lintang jalan keliling menjajakan makanan Indonesia di pojok-pojok keramaian.. what a great idea..!! Mpok Lita yang tourism JCU student juga dengan senyum 'Indonesia'-nya promosi Indonesia lewat brochures dari Indonesia Embassy.. eittt..!! jangan lupa.. Indonesian foods is also part of tourism apalagi Mpok mpok dan Abang yang jaga stand pake pakaian dengan atribut Indonesia.. atributnya simpel aja, scarf, batik, dan kebaya-top..

PPIAers juga menyempatkan keliling2 JCU get around at JCU Open Day.. bahkan Putu Liza sempet "on-air" sebagai utusan International Students.. "Indonesia.. on air..!" di 106.3 FM.

Oya.. Happy Father's Day 'tuk Bapak-bapak.. Pak Muslim, Pak Parjiono dan Pak Gustaf pun tersenyum..

Wednesday, August 29, 2007

Tuesday, August 28, 2007

Indonesia Festival 2007-Gebyar dan Semarak

liatin foto heboh kita dong

Pagi yang cerah. Backdrop terentang gagah. Gebyar bendera Indonesia dan Australia membangkitkan semangat. Farida sang sekretaris menebar senyum ramah kepada para tamu yang satu per satu berdatangan. Dan dibukalah acara Indonesia Festival pertama ini oleh MC Annie Daryani (notes: Annie was crowned as Miss Cultural Festival Townsville-Thuringowa 2006, see the report in the category "cultural events" in this blog). Lagu Indonesia Raya dinyanyikan semua hadirin dengan hikmat dilanjutkan dengan Australia National Anthem. Tari Bali pembukaan Panyembrama oleh Putu Liza menghangatkan suasana welcoming. Setelah sambutan demi sambutan dari Ketua Panitia Zainul Hidayah, Presiden PPIA JCU (JCU Indonesian Student Association) 2006/2007 Dian Latifah, Hon Cr Brian Bensley mewakili Mayor Thuringowa Les Tyrell yang didampingi sang istri Mrs Carol Bensley, dan Minister Counsellor Mr Anwar Raudin mewakili Duta Besar/Ambassador Mr Hamzah Thayeb, rangkaian performances pun silih berganti.

Dimulai dari Tari Pendet oleh Ani Christiani residen kemudian Alex Salvador dengan penampilannya yang mengesankan lewat pelibatan langsung seluruh audience menciptakan rhytme indah. Dilanjutkan dengan penampilan Tari Yapong oleh Annie, Ani, Angel dan Tessy yang aksi goyangannya mengundang tepuk riuh audience.

Performance dari negara lain kembali tampil, kali ini dari India dengan drama musicalnya yang sebagian besar dimainkan oleh bocah-bocah ciliknya kemudian Filipino Group dengan grup banjo music nya. Kerekatan persahabatan antara negara makin terasa saat para penampil India menyajikan lagu dan musical "Banda Mataram" (yang diadopsi dari Indonesia dari kata "Bende Mataram") serta penari Indonesia Putu Liza membawakan tari dari India bahkan tarian klasik Bharatnatyam.

Anak-anak berbakat Indonesia pun unjuk kebolehan. Tari Payung ditampilkan menggemaskan oleh Nadine, Gloria, Chikita, Aulia, Jessy dan Isyah. Tita memainkan alat musik clarinet serta Anissa menyumbangkan suaranya saat nyanyian Gebyar-gebyar menggema. Sebenarnya potensi anak-anak berbakat cukup banyak namun karena keterbatasan waktu dan tenaga pelatih tari yang juga students Annie Daryani dan Maulita Sari Hani, tidak bisa semuanya berkesempatan tampil di Indonesia Festival tahun ini.

Penampilan berikutnya yang menggoncang 'bumi' Thuringowa dengan tepukan dan hentakan Tari Saman nya oleh 10 orang penari Tony, Putu Liza, Annie, Ani, Angel, Dian, Zainul, Desni, Etha, Tessy dengan pelatih tari Maulita Sari Hani. Suara-suara merdu pun mengangkasa dengan iringan keyboard oleh Pak Bambang dari Ayr bahkan Pak Anwar Raudin pun ikut bernyanyi. Puisi oleh Putu Liza menggebyar lagu "Gebyar-gebyar". Duet Tessy dan Angel mempermanis suasana.

Tak lengkap tanpa "finale" dimana para audience bisa diajak menari bersama. Diawali Tor-tor oleh Desni, Angel, Etha, Vina dan Putu Liza hadirin dihenyakkan oleh finale Poco-poco yang dipercantik oleh goyangan mantap Mita Takaendengan. Foto bersama di depan backdrop "Indonesia Festival and 62th Independence Day" bersama Pak Anwar Raudin melengkapi keceriaan perayaan dan peringatan hari Kemerdekan Republik Indonesia tercinta hari ini.
Semua bergaya.. kemudian.. berlomba..!!

Perlombaan dipimpin oleh Puji didampingi Vina Birbeck dan Tony. Para pemburu hadiah pun riang saat memperoleh kemenangan dan menerima hadiah lomba-lomba tradisional khas Indonesia yaitu balap karung, lomba kelereng, makan kerupuk dan lomba lari kelereng. Hampir semua anak-anak menerima hadiah tentunya agar tangis tak meledak di udara, tercatat sang juara adalah Aisyah putri Kasmawati Hem yang aktif dan semangat berlomba bahkan berhasil mematahkan kepala bebek karya Vina Birbeck meski mata ditutup dan terjatuhlah sang bebek hias cantik di tanah menabur baurkan lolies kesukaan anak-anak, Bijai putra Pak Halmar Halide (lomba kelereng), David dan James (lomba kelereng), Nadine Mamangkey di lomba pensil masuk botol, Auliah Parjiono (lomba kerupuk) serta Afi putra Pak Erwin Imam Santoso. Sedangkan pemenang dewasa tercatat: Balap karung wanita (1) Dian Latifah (2) Umi (3) Etha; Balap karung pria (1) Kevin (2) Glenn (3) Zainul Hidayah; Lomba Kerupuk Wanita (1) Tessy (2) Rika (3) Vina birbeck.

Lomba masih berlanjut keesokan harinya yaitu final volley ball (catatan: volley ball adalah olahraga rutin PPIA JCU yang banyak diminati saudara-saudara dari negara lain; lihat category SPORT dalam blog ini). Setelah berhasil mengalahkan grup voli India dan grup mix dengan Papua Nugini, England, South Africa, Fiji dan Filipina terjadilah Final All Indonesians (meski ada pemain asing bala bantuan dari Papua Nugini). Keluar sebagai juara adalah tim yang dikomandani Lintang Adi Pradana dengan anggota etha, ani christiani, glenn, tessy, tony. Koordinator acara lomba Puji menutup acara dengan penyerahan hadiah kemudian dilanjutkan dengan acara makan-makan di rumah Ibu Presiden dan nonton bareng video Indonesia Fest 2007 sekaligus membubarkan Panitia dan manandai berakhirnya seluruh rangkaian acara Indonesia Festival 2007. Akhirnya semua berteriak.. Merdeka..!! dan BACK TO GREEN CAMPUS.. our beloved James Cook University..!!

© PPIA-JCU

Indonesia Festival 2007-dibalik kisah sukses

click here to see our photos

Persiapan acara kerap meninggalkan kesan tersendiri. Two days to go disamping heboh belanja dan persiapan pos sie Lomba nya Puji-Vina, juga telah terjadi peresmian rumah penampilan baru di 2/28 Deschamp St Gulliver ditandai dengan pemotongan pita "kabel printer inventaris PPIA JCU". Accident yang menjadi ONE night breaking news ini mengundang gelak tawa di 2/18 Wandella dimana para performers meriung ngumpul untuk Gladi Resik, ketika sang istri dari 'pelaku' menunjukkan barang bukti beserta sang pelaku kepada Ibu Presiden. Adegan ini menjadikan lelah terlupakan bagi keluarga Purwani-Bambang dan De' Tita yang sengaja datang dari jauh dari Ayr 'tuk menghadiri gladi resik ini.

Kehebohan makin menjadi jadi One day to go hampir semua pos belanja-belanja yang kurang dan harus kerja keras sampai hampir midnight dari mulai pos bikin spanduk (see photo inzet L-R: Zen-Lintang-Tony di kediaman pemilik tenda biru Gustaf) dan pos games dan lomba. Accident disconnection cable (psst alias Dian lupa nyolokin cable ke power outlet hihihi typical ladies-electronical-skill problem dan mudah ditebak menyalahkan laptop dan printer yang anteng2 aja bahkan berlanjut dengan pembahasan theory metafisika tentang pancaran gelombang energy namun semuanya berakhir dengan teriakan Icha.."D-i-a-n..!!" mirip John Burckle yang mengomeli Garfield) kembali terjadi di 2/18 Wandella dimana Dian, Putu Liza dan Angel melembur. MC Annie Daryani harus bergadang sampai 2 am dini hari dan komunikasi via email dan mobile phone dgn Dian tuk membuat katalog acara/program event untuk display dan para honourable guests akhirnya Dian tak sempat tidur untuk mendesain dan memperbanyak katalog tersebut namun menyempatkan tidur sesaat paginya sampai dibangunkan para pangeran berotot Gustaf, Zen dan Lintang dari peraduan Putri Dian di 46 Bundock St.

Hari-H di lapangan diawali dengan olahraga peregangan otot-otot dengan mengangkat-angkat meja kursi tak pandang pria maupun wanita. Bunda Kasey-bundanya Annie Daryani dan bundanya kita semua (hehe boleh ya Nie..) turun tangan dan mensupport dengan penuh semangat dan kasih seorang Bunda.. yang membuat kita keep smiling dan keep stronger menyiapkan acara dan.. ready to go..!!

© PPIA-JCU

Sunday, August 26, 2007

FESTIVAL INDONESIA 2007, SUKSES!

Festival pertama Indonesia di Townsville-Thuringowa berlangsung dengan sukses! 25 Agustus 2007, Saturday, Riverway Park Thuringowa.. Festival ini bukan hanya diikuti oleh warga Indonesia di kota Townsville-Thuringowa namun juga dari berbagai kota di sekitarnya seperti Ayr, Charters Towers, Ingham, Cairns dan Mackay. Kemeriahannya juga disemarakkan dengan penampilan beberapa perkumpulan seni pertunjukan dari Filipina dan India. Sebagai negara tetangga yang juga berperan dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia di masa revolusi, dalam festival inipun kemilau budaya mereka bersanding bersama untaian ragam budaya Indonesia. Unity in Diversity!.. =Bhinneka Tunggal Ika.. . the slogan and spirit of the Republic of Indonesia.

Terlepas dari kemeriahannya, banyak pihak di luar PPIA JCU yang juga berperan dalam terwujudnya kegiatan ini. Kedutaan Besar RI di Canberra yang bahkan mengutus Pak Anwar Raudin (Minister Counsellor) mewakili Duta Besar, Konsulat Jendral RI di Sydney, pihak Pemerintah Kota Thuringowa dengan utusannya dan yang juga merelakan tempatnya , Pemerintah kota Townsville, International Student Center James Cook University (JCU) bersama utusan Liason Officer Ausaid JCU Mr. Alex Salvador, Student Association JCU, Chaplaincy JCU Mr. Wayne Crockford, Masyarakat Indonesia di Townsville-Thuringowa dan kota-kota disekitarnya, pihak Departemen Kelautan & Perikanan dan Proyek Coremap yang pernah meninjau JCU atas pimpinan Dr. Jamalludin Jompa, Komunitas Filipina dan India di Townsville-Thuringowa, dan para perangkat acara mulai dari sound-system nya Pak Erwin, keyboardist dan singers Pak Bambang dan keluarga, penyedia perangkat panggung, dan berbagai aksesoris serta perlengkapan lainnya dan konsumsi yang dibantu sepenuhnya oleh masyarakat Indonesia di Townsville-Thuringowa.

Hon. Cr Brian Bensley beserta istri menyatakan kepuasannya yang mendalam atas kesuksesan acara ini.. mereka stay bersama kami hingga lunchtime dan begitu berbaur dengan audience dan performers. Minister Counsellor Raudin Anwar menunjukkan kebahagiaan tak hingga, memberikan semangat dan dorongan agar menjadikan Festival Indonesia ini ajang tahunan di Townsville-Thuringowa.


Menilik sekilas sejarah.. kegiatan Perayaan dan Peringatan Indonesia Independence Day ini telah dirintis PPIA JCU dengan support para residen sejak tahun 1990-an pada beberapa kali program perayaan dan peringatan Independence Day-nya dengan konsep-konsep sederhana dan masih untuk kalangan terbatas komunitas Indonesia dan Australians (suami/istri/anak-nya) serta Australians sebagai honourable guests/invitees, terlebih lagi saat diketuai Pak Marwata dan Presiden Ghitarina tahun 2004 berhasil mendatangkan Dubes Hamzah Thayeb, tahun 2005 dengan Presiden Johanna Kodoatie yang seniwati (pemusik dan penari) konsep "Festival" sudah ada, konsep ini makin matang di periode 2006 Presiden Aryadi Arsyad dan ketua panitia Yansen dengan koordinator kesenian Johanna Kodoatie kembali yang dihadiri Mayor Thuringowa Les Tyrell, dan.. jadilah Indonesia Festival PERTAMA tahun 2007 yang mulai membuka diri terhadap publik Australia dan diadakan di lokasi strategis dan reputable Riverway Park Thuringowa.. yang dikomandani Zainul Hidayah..!!

Selamat.. Panitia dan PPIA JCU..!! MC Annie Daryani, Putu Liza, State Manager Lintang, Koordinator Kesenian Annie Daryani yang sekaligus pelatih tari/koreografer bersama Lita, para performers, para pemburu hadiah alias yang ikutan games dan sport alias volley yang dikomandani Puji didampingi Tony dan staf ahli Vina Birbeck, Sekretaris Farida Damayanti, Bos perlengkapan Pak Parjiono dengan tim pria2 tangguhnya, Gustaf extra kerjanya, Lukman sebagai utusan bala bantuan dari Presiden dan Sekretaris PPIA, Bos Konsumsi Mita dengan staf Ahli Mbak Warni dan Mbak Ita Halmar, pemilik tenda biru, para istri student dan residen yang masak extra dan semuanya yang dengan senang hati bekerja membantu dan berpartisipasi extra.. Keluarga Pak Muslim yang sudah take care Pak Anwar Raudin.. para istri/suami/anak-anak/sweetheart dari Panitia dan Performers yang ikutan sibuk atau atas support dan pengertiannya.. semua pihak yang menjadikan Indonesia Festival Pertama menjadi nyata.. you're all making a history in your life.. we're all going to miss out kebersamaan kita, suka, duka, tawa, tangis, capek, lapar, tegang, sedikit stress, kurang tidur, kerja otot (hehe..), tukang cuci, selama persiapan acara lalu dan pas acaranya.. Selamat..!!

© PPIA-JCU

Thursday, August 23, 2007

Indonesia Festival 2007-Program

State Manager :Lintang Adi Pradana
Master of Ceremony: Annie Daryani dan Putu Liza

10.00: Opening Ceremony
· Balinese Dance Panyembrama Penyambutan by Putu Liza
· Opening of the event (the background and purpose of the event by the Zainoel Hidayah)
· Opening speech by the president of Indonesian Student Association JCU (Dian Latifah)
· Speech from Minister Counsellor Anwar Raudin on the behalf of Ambassador Hamzah Thayeb, the Embassy of The Republic of Indonesia for Australia-Canberra.
· Speech from Hon. Councillor Brian Bensley, Thuringowa City
· Indonesia Raya (sung together with text)
· Australia national anthem (sung together with text)
10.30: Balinese Dance Pendet by Ani Cristiani
10.40: Children Payung Dance (Umbrella Dance from Western Sumatera) by Nadine,
Chickita, Glory, Aulia, Jessy, and Isyah
10.45: Singing Performance of traditional Indonesian songs by Indonesian singing group
11.05: (Performance from other culture) by Alex Salvador and group
11.15: (Performance from other culture) Indian performance by the Indian community & Putu Liza (Bharatanatyam)
11.25: (Performance from other culture) Filipino performance by Filipino -Australian
Affiliation of NQ (FAANQ).
11.35: Jakarta Dance Yapong by Annie, Icha, Ani, Angel, and Tessy
11.45: Aceh Dance Saman by Tony, Icha, Angel, Dian, Toni, Tessy, Desni, Etha, Zen
11.55: Finale (dance together): Tor Tor Dance/Poco-poco from Sulawesi Island
12.05: Lunch
12.35: Musical Performance by Pur and family
12.50: Traditional Sports and Games
02.45: Present give away and closing

© PPIA-JCU

Indonesia Festival AT GLANCE-25 August

August 17 marks the day when Indonesia proclaimed its independence back in 1945. Every year, the entire country commemorates the occasion in both solemn and cheerful ways. While there is much reason for celebration, we also honour the sacrifice of our heroes and remember them with gratitude and reverence the supreme struggle they made to achieve our independence, so that we can all look forward to the brighter future of Indonesia in international forum. To honour our independence, it is important for us to also remember the meaning of ‘Unity in Diversity’ or ‘Bhinneka Tunggal Ika’ as our national character. By nature, Indonesia is a diverse nation with many ethnicity, language, customs, colours and religions. ‘Bhinneka Tunggal Ika’ or ‘Unity in Diversity’ is our quintessential personality that guides us in our relationships within the country and with other nations.

The spirit of Indonesia Independence Day does not only belong to Indonesians living in Indonesia but also to those living overseas. Through the commemoration of the 62nd Indonesian Independence Day, the Indonesian students and community in Townsville aspire to maintain the spirit of independence by performing a special occasion: the Indonesia Festival and Independence Day. The cultural event is designed to explore creativities, embrace arts, traditions and beliefs within the many ethnic groups in Indonesia and to serve as a media to embrace diversity and promote understanding with the international communities. By inviting and involving people of different cultural backgrounds and nationalities in Townsville, we hope that the event will promote Indonesia’s cultural diversity and foster multi cultural understanding in Townsville Australia.

© PPIA-JCU

Monday, August 20, 2007

Selintas tentang Cultural Festival di Townsville


Ajang tahun ini dilaksanakan dari tanggal 15 sampai 19 Agustus. Pertunjukan budaya yang biasanya dilaksanakan selama lima hari di setiap tahun ini mengusung tema umum: Unity in Diversity. Berbagai atraksi budaya dari berbagai belahan negara ditampilkan disini, umumnya dipertontonkan oleh warga Townsville keturunan, para expatriates dan students yang belajar di berbagai sekolah dan universitas sekitar Townsville. Konsepnya sederhana memang, yang penting tampil dengan budaya sendiri. Tak ada aturan yang kaku dalam pementasan kecuali tepat waktu. Bila siap, silakan mendaftar ke panitia.
Areal pertunjukan itu sendiri bukan hanya memberi tempat bagi para penari dan penyanyi namun juga menampung para kreatifitor di bidang seni lainnya. Di sana ada art & souvenir shops yang melingkari dua areal pertunjukan utama: main stage dan global village. Hal yang unik dari global village tahun ini adalah menampilkan atmosfir desa-desa di pasifik dengan dominasi daun kelapa di setiap rumah sekaligus gerai-nya. Di tengah kampung terdapat sebuah bale-bale di mana setiap pengunjung kampung bisa mempertontonkan kemampuannya. Semua penduduk maupun pengunjung harus tunduk pada peraturan yang dibuat oleh raja dan ratu kampung. Peraturan yang paling “mengerikan” adalah denda bagi yang merokok di dalam kampung yang bisa mencapai 3 juta rupiah.
Tim Indonesia mengirimkan delegasi terbesar dalam sejarah untuk ajang tahun ini. Maksudnya bukan delegasi terbanyak diantara para performers namun terbanyak dibandingkan dengan delegasi Indonesia di tahun-tahun sebelumnya. Dengan kombinasi antara sebagian anggota PPIA JCU dan beberapa orang residents dan expats, jadilah sebuah tim kontingen yang terdiri dari para penari Saman, Yapong dan para peraga busana (baca berita lainnya di webblog ini).
Sebelum pertunjukan pemungkas, acara ini sendiri ditutup oleh pidato sejenak dari walikota Townsville, Cr Tony Mooney yang menyatakan kegembiraannya atas keragaman yang menyatu di kota Townsville ini....(foto inzet-Cr Tony Mooney bersama Goestaf dari PPIA JCU) © PPIA-JCU

Monday, August 13, 2007

Kompetisi telah bergulir

Divisi olahraga Panitia Tujuh belasana PPIA JCU telah memulai kegiatannya dengan mempertemukan Tim Indonesia A dan Tim India pada sesi awal dalam pertandingan voli antar negara di Cranbrook Park hari minggu, 12 Agustus 2007. Tak hanya itu, gabungan Tim Internasional bertarung melawan Tim Indonesia B pada sesi kedua kegiatan yang dilangsungkan selama dua minggu ini (maksudnya dua kali hari minggu). Pada pertandingan sesi pertama, Tim Indonesia A (INA A) mendapatkan perlawanan habis-habisan dari Tim India yang dikomandani oleh Suneer, yang rencananya akan mengikuti Olimpiade Beijing 2008. Ya, beliau akan ke Beijing atas biaya sendiri sebagai penonton sih... Setelah melewati perjuangan yang begitu alot, akhirnya Tim INA A berhasil memenangkan pertandingan voli yang dibuat dengan sistem "suka sama suka". Sistem ini adalah sistem yang disepakati bersama sebelum pertandingan. Sementara pada pertandingan kedua, TIM INA B dengan tanpa kesulitan mengalahkan Tim Internasional yang dikomandani Suneer (lagi)... Lho koq Suneer terus? Ya memang, dia sendiri mengakui bahwa dia bisa mengikuti pertandingan lanjutan tanpa merasa capek. "Walaupun ada tes doping, aku tak takut", kilahnya.

© PPIA-JCU