Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Friday, February 29, 2008

Menguak Pandora Pengetahuan Coral di Museum Tropical Queensland dan Sekelumit Cerita di Townsville

suasana training di Museum Tropical Queensland - Townsville

* Science and Monitoring Coordinator - Conservation International Indonesia - Raja Ampat Program, Office: Jl. Arfak 45 Sorong 98413 Papua Indonesia, Ph +62 951331428 fax +62 651331786 email : mlazuardi@conservation.org

Erdi in Wayag Raja Ampat-Papua Indonesia (photo courtesy: AGD Hutabarat)

Dua tahun lalu, pada bulan Februari dan Mei 2006, Conservation International (CI) – Indonesia, bekerja sama dengan Departemen Kehutanan dan Departemen kelautan dan Perikanan serta LIPI, melakukan survey kelautan di Teluk Cendrawasih dan Fak-fak – Kaimana yang dalam istilah para ahli kelautan termasuk ke dalam kawasan Bentang Laut Kepala Burung Papua (Bird’s Head Seascape). Kawasan ini juga biasa disebut sebagai jantung segitiga karang dunia (the heart of the world’s coral traingle), dimana 75 % species karang keras*) yang ada di dunia terdapat di kawasan ini. Segitiga karang dunia merupakan kawasan yang terbentang antara Indonesia, Malaysia, Philippina, Australia dan Papua Nugini serta pulau-pulau di barat Pasifik. Survey ini meliputi pendataan jenis-jenis karang keras, jenis-jenis ikan karang dan sosial ekonomi masyarakat.
Saya merasa senang diberi kesempatan ikut serta dalam kegiatan ini. Disamping pengalaman serunya menyelam di tempat yang belum pernah diselami sebelumnya, juga karena kegiatan ini melibatkan para saintis ternama dalam bidangnya yaitu Gerry Allen yang banyak menyusun buku tentang identifikasi ikan dan panduan lapangan, Emre Turak dan Lyndon Devantier yang berkontribusi banyak dalam penyusunan buku-buku tentang identifikasi karang keras. Kegiatan ini juga mencoba mengoleksi specimen-specimen karang keras untuk diidentifikasi lebih lanjut di laboratorium guna mengetahui nama ilmiahnya ataupun kemungkinan species baru yang belum terdeskripsikan.
Dari survey tersebut dengan ditambah dari hasil survey di Kepulauan Raja Ampat pada 2001-2002, terdapat 1233 jenis ikan karang dan 600 jenis karang keras. Sedangkan specimen karang yang dikoleksi adalah 540 specimen dan diduga terdapat 42 jenis karang baru maupun endemik.
Senang sekali bagi saya yang juga tertarik dalam bidang taksonomi karang, akhirnya juga bisa ikut serta dalam identifikasi karang dari hasil kegiatan tersebut di Museum of Tropical Queensland (MTQ), Townsville.
Untuk kegiatan di Townsville ini, tugas saya tidak banyak. Pertama, mengurus packing specimen-specimen karang dari Sorong Papua menuju Denpasar dan akhirnya menuju Townsville dengan segala perijinannya. Sesampainya di MTQ, saya membantu mengelompokkan specimen-specimen karang tersebut ke dalam family dan genus. Belajar dan membantu identifikasi ke tingkat species dengan bantuan specimen karang koleksi MTQ dan literatur-literatur yang ada.
Tiga minggu kegiatan yang saya ikuti dari 7 – 27 Februari 2008 adalah sehari-hari di lab identifikasi. Dengan tinggal di Kissing Point, sesekali pulang pergi menuju MTQ dengan jalan kaki 40 menit perjalanan, menikmati nyamannya Strand dengan bersihnya pantai (The Strand tercatat sebagai Queensland's Cleanest Beach 2003), ruang publik yang bagus dan juga burung-burung bebas beterbangan yang di Indonesia sudah sangat jarang dijumpai sekalipun di hutan. Sekali waktu juga sempat menikmati keindahan Townsville dari puncak Castle Hill.
Sempat ngumpul dengan teman-teman mahasiswa dari Indonesia dan beberapa kawan mereka dari negara lain serta warga Indonesia yang tinggal di Townsville. Semuanya ramah, hangat dan menyenangkan. Memasak, main gitar, main voli dan makan bareng. Potong rumput di rumah Mbak Icha dan Mbak Dian :p, tetap menyenangkan.
Semua staf, khususnya Dr. Carden Wallace sebagai principal scientist di MTQ, sangat ramah, terbuka dan perhatian. Membuat hari-hari di lab tidak membosankan dan suasana sangat mendukung untuk terus belajar. Kehangatan mereka juga tertuang dalam penyambutan dan perpisahan yang sederhana namun tak akan pernah saya lupakan karena kebaikan mereka termasuk undangan makan malam di rumah yang sangat bersahabat.
Fasilitas MTQ sangat lengkap dan rapi. Koleksi specimen karang juga dikelola dengan baik. Saat ini terdapat 800 species dari 400.000 specimen karang keras di museum yang juga terkenal karena sejarah dan peninggalan kapal ”Pandora”, sebuah kapal layar Inggris yang karam di Great Barrier Reef pada 1791.
Saat ini, kegiatan identifikasi tersebut masih terus berlangsung. Di luar itu semua, terlebih penting dari hasil survey dan kegiatan identifikasi ini adalah bagaimana kedepannya potensi kawasan ini bisa dikelola dengan baik sebagai benteng terakhir kawasan terbaik terumbu karang dunia dengan tetap memberi manfaat yang baik juga untuk masyarakat Papua.
*)
Karang keras merupakan endapan deposit masif zat kapur yang dihasilkan dari hewan karang dari filum Cnidaria, klas Anthozoa dan ordo Scleractinia yang hidup di lautan tropis dalam koloni maupun soliter dan merupakan komponen utama dalam ekosistem terumbu karang.

© PPIA-JCU

Saturday, February 09, 2008

Eco-prison

Banyak hal yang berlabel eco- baik (memang) untuk penyelamatan bumi maupun trik bisnis. Jujur saja, akhir-akhir ini banyak kalangan bisnis menggunakan mainstream "go green" untuk memperlebar pasar kekuasaannya. Agaknya, dititik ini sebagian tree huggers dan pengikut anti kapitalisasi berseteru padahal keduanya berpadu menentang industrialisasi. Nah, kalau berbicara tentang konflik, kita akan berbicara hukum! Siapa salah di mata hukum akan kena sanksi! Masuk penjara, misalnya. Penjara terkenal akan keangkerannya walau toh 'dilembutkan' dengan istilah Lembaga Pemasyarakatan yang diartikan sederhana sebagai lembaga yang membuat orang di dalamnya bisa membaur dengan masyarakat biasa. Norwegia menawarkan solusi baru. Mereka membuat sebuah lembaga pemasyarakatan yang berlabel Eco. Apalagi istilah ini? Ternyata si Eco-prison-nya Norwegia ini memberikan tempat bagi para kriminal (bahkan kelas kakap sekalipun) untuk hidup with eco-style. Sebagian besar energi dipakai dengan menggunakan sistem daur ulang, sinar matahari dan kayu bakar, bahkan bahan bakarnya berasal dari bio-fuel (bahan bakar yang baru dipromosikan massal di nusantara). Tempatnya nyaman, berada di sebuah pulau, indah lagi. Penjaganya tak bersenjata. Para kriminal juga berusaha di berbagai bidang, kebanyakan pertanian dan peternakan. Pertanyaannya: bila si Eco-prison ini berada di Indonesia, apa kira-kira yang akan terjadi?

© PPIA-JCU

Wednesday, December 05, 2007

Critical assessment of ecotourism development in Raja Ampat

confirmation of minor thesis

"Critical assessment of ecotourism development in Raja Ampat"


Name: Maulita Sari Hani
Master Student in Ecotoruism
School of Environmental Science
School of Business
Supervisor:
Ass.Prof. Gianna Moscardo
Dr. Alastair Birtles

INTISARI (Bahasa):
Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) saat ini merupakan konsep yang telah dikembangkan meluas. Konsep ini mengintegrasikan kebijakan2 sosial, ekonomi dan budaya. Konsep ini pun dapat diaplikasikan untuk pengembangan wisata berkelanjutan melalui ekowisata dengan studi kasus di Ekowisata Raja Ampat, Papua Barat - Indonesia. Metode analisis adalah 'critical assessment' mencakup bidang-bidang sbb: (1) identifikasi potensi rute dan object/produk ekowisata; (2) identifikasi potensi dampak ekowista terhadap aspek2 lingkungan, sosial dan budaya ; (3) mengkaji apakah ekowisata mampu berperan dalam meningkatkan konservasi keanekaragaman hayati; (4) mengkaji apakah ekowisata mampu berperan sebagai pembangunan alternatif yang berdayaguna dan sejalan dengan mekanisme pembangunan ekonomi; (5) identifikasi potensi ekonomi dari pengembangan ekowisata; (6) mengkaji kapasitas komunitas setempat dalam berpartisipasi mengmebnagkan ekowisata. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi kebijakan pemerintah dan perencanaan dalam hal prioritas dan aktivitas ekowisata serta rekomendasi model pembangunan ekowisata yang berkelanjutan dan berdayaguna ('viable').

Sustainable development is now widely promoted as a holistic concept that aims to integrate social, economic and cultural policies to ensure high-quality growth in the context to which it is applied. Particularly in peripheral areas, such as Raja Ampat, West Papua - Indonesia, it has the potential to contribute to sustainable tourism development through ecotourism.

Ecotourism is a segment of the tourism delivery system where the principles of sustainable tourism are applied to all activities, operations, processes and enterprises involved. It has the potential role for biodiversity conservation, economic growth, community empowerment and sustainable development. In order to achieved sucessful ecotourism, sustainability must be defined temporally, designate who is to receive the benefits, and determine at what levels the four systems are to be continued.

To achieve the successful ecotourism development in Raja Ampat, I believe that there is a need of critical assessment to analyze the potential of ecotourism in this region. The assessment itself are focus on a number of areas of investigation: (1) identify potential ecotourism routes and products in the research area, (2) identify potential environmental, cultural and social impacts of eco-tourism development, (3) assess and determine if and how ecotourism can play a role in enhancing biodiversity conservation, (4) assess and determine if and how ecotourism can play a role as a viable alternative development and economic development mechanism in the regions studied, (5) identify the potential economic development of ecotourism, (6) assess the community capacity with regard to participation in ecotourism development.

At the end of this study, I will recommend ecotourism priorities and activities in order to develop appropriate ecotourism policy and planning and I will also develop a viable ecotourism sustainability model through marine ecotourism.

© PPIA-JCU

Thursday, November 01, 2007

Cabang-Ranting, filosofi kayu bakar

dikopi dari: Goestaf for Earth


Alam memang memberikan banyak manfaat sebagai bahan rujukan dalam hampir setiap aspek kehidupan manusia. Tingkah laku terbang burung menginspirasi manusia untuk ikut terbang, jadilah pesawat terbang. Ikan di laut menginpirasi terbentuknya kapal selam, bahkan sampai pada struktur bangunan kerang yang menginspirasi para arsitek untuk membangun rumah. Dalam membuat sebuah organisasi proses biomimetik juga berlaku untuk membangun struktur organisasi dengan mengadopsi struktur sebuah pohon. Prinsip ini tentu saja sangat sederhana ditelaah: pokok pohon adalah pencitraan dari pimpinan pusat yang biasanya menjadikan diri sebagai induk, cabang adalah perpanjangan dari pusat dan ranting adalah bagian akhir dari organisasi. Mengambil filosofi pohon selalu saja dilihat dari sisi kepentingan pokok pohon (atau sang induk), jarang yang berasal dari ranting. Induk berkata bahwa induk akan mengayomi melindungi cabang dan (apalagi) ranting bila terjadi sesuatu. Cabang juga demikian dan akhirnya the looser si ranting (terpaksa) menerima bahwa dia terlindungi. Inilah yang diagung-agungkan dari berbagai organisasi (apalagi dalam partai politik). Coba kita melihat dari sisi lain, dari sisi yang jarang (atau mungkin disembunyikan) dari induk atau cabang. Pokok pohon dan cabang menjadi besar karena suplai makanan dari ranting. Mereka gendut karena disuplai terus dari ranting lewat makanannya. Tak jarang mereka terlena sehingga bukannya makin kuat (dan melindungi ranting) tapi malah makin mudah patah. Tahu gak kalau kelebihan makanan selalu disimpan di akar sang induk? Suplai makanan ini akan digunakan oleh Pokok pohon kemudian cabang dan (akhirnya) ranting. Saat masa paceklik, yang lebih dahulu meranggas dedaunan yang ditahan ranting. Saat sang ranting tak kuat, dia terpaksa harus melepasnya dan akhirnya diapun turut mati. Mereka lebih dahulu kering dan mati baru kemudian cabang dan akhirnya pokok pohon. Tak ada kejadian sebaliknya. Yang masuk api pertama tentunya ranting, kemudian cabang dan akhirnya pohon. Di partai juga demikian, keganasan sang induk bahkan sangat terasa. Mereka tak segan mematikan dahan dan (apalagi ranting) bila tak sejalan dengan keinginan mereka. Wajar kalau memang cabang-ranting itu berlaku dalam bisnis karena biasanya sang induklah yang membentuknya. Pertanyaannya: apakah organisasi lain di luar partai dan bisnis yang mengadopsi filosofi pohon juga memiliki misi seperti mereka (partai dan bisnis)? Kalau tidak, gantilah istilah cabang-ranting karena konotasinya jelas. Thanks buat Icha dan Dian untuk inspirasinya.




Info sekitar polemik cabang-ranting:


Putu Liza Mustika (First Secretary PPIA JCU) berpendapat atas nama pribadi:
Bersama dengan ini saya nyatakan lagi sikap saya sebagai pribadi anggota PPIA JCU bahwa saya tidak sepakat dengan penyebutan 'Ranting' dan saya meminta agar kata itu dicabut penggunaannya dan dicarikan kata lain yang lebih setara. Misalnya divisi, atau sektor. Itu lebih sejajar, dan mengakomodasi kaum marjinal di North Queensland dan di tempat-tempat lain. Dan saya juga nyatakan sikap saya pribadi bahwa PPIA QLD selayaknya memposisikan diri sebagai koordinator, bukan atasan. Jadi seperti federasi, di mana PPIA QLD mengakomodasi suara2 daerah, tapi tidak memiliki garis otorita, karena sejarah pembentukannya juga sudah berbeda.


5. Saya juga ingin mengingatkan sebagai sesama warga Indonesia, bahwa kesalahpahaman kecil seperti ini sebenarnya adalah cerminan dari kekisruhan di negara kita. Kenapa sampai terjadi banyak daerah ingin merdeka? Antara lain: karena ketidakadilan dari Jakarta/Pusat. Bukannya saya setuju gerakan kemerdekaan; saya sangat nasionalis yang tidak eksklusif, nasionalis yang harmonis dengan dunia internasional. Tapi ketidakadilan itu terjadi, banyak kali, di daerah2 yang saya kunjungi, dan membuat orang ingin merdeka. Salah juga, menurut saya, karena bapak ibu pendiri bangsa kita mendirikan bangsa ini, this very nation of Indonesia, bukan untuk terpecah lagi. Tapi sebenarnya adalah tugas Jakarta sebagai pengayom teman2 daerah, mengakomodasi kepentingan daerah, dan bukannya menyatakan ini itu yang harus dilakukan oleh daerah. Jakarta atau daerah manapun yang memposisikan diri sebagai 'Pusat' haruslah menjadi pengayom, pelayan. Bukan atasan. Kita sebagai mahasiswa di rantau selayaknya bersatu untuk negeri. Tapi dalam upaya bersatu itu harus ada rasa hormat, kasih, dan saling mengerti. Dan juga maaf-memaafkan.


...Saya tidak sepakat dengan penyebutan 'Ranting' dan saya meminta agar kata itu dicabut penggunaannya dan dicarikan kata lain yang lebih setara. Misalnya divisi, atau sektor. Itu lebih sejajar, dan mengakomodasi kaum marjinal di North Queensland dan di tempat-tempat lain."


dan semoga suara saya itu bisa disalurkan ke AGM di Canberra (entah kapan). AD/ART tidak terbuat dari batu; masih bisa diubah. Saya rasa, dengan segala hormat, penggagas istilah 'ranting' dan 'cabang' itu tidak terlalu sensitif dengan rasa bahasa, sehingga tidak memprediksi bahwa masalah seperti ini akan muncul nantinya (dan sudah muncul). Seperti usul saya, istilah ranting itu sebaiknya diganti saja. Tidak ada kasus pembanding lain dalam hal ini, karena satu2nya PPIA di luar Brisbane dan sekitarnya adalah PPIA JCU (well, kami ada kampus di Brisbane, but it doesn't count, karena tidak ada mahasiswa Indonesia di sana). Jadi aspirasi saya dan Gustaf sebagai pribadi yang juga anggota PPIA JCU ini memang terdengar aneh bagi teman2 di Brisbane atau Canberra.



Opini Dian Latifah


(1) Jika fungsi yang dibutuhkan adalah "Koordinasi" dan "Mediasi" atau perpanjangan tangan dari "Pusat", kita hanya butuh seorang "Koordinator Cabang" bukan "Kelembagaan Cabang" untuk tiap Negara Bagian.

(2)Korcab bisa berfungsi seperti "Deputy"
http://en.wikipedia.org/wiki/Deputy
--kalo ada fungsi untuk kepentingan yang besar dan strategis yang sulit ditangani PPI Pusat dan Korcab, bisa dibentuk sebuah Komite Khusus (atau istilah lain yang setara); di era technology seperti saat ini banyak hal yang bisa difasilitasi.

(3)I believe that Korcab will empower PPIA Pusat and all PPIAs, dan memperdekat hubungan PPIA Univ dan Pusat tidak ada lagi sense "Pusat-Cabang-Ranting" atau "atasan-bawahan"
Kalo ini terjadi, maka AGM PPI Australia per 2 tahun untuk memilih: Presiden PPI Australia dan 7 orang Korcab (Qld, ACT, NT, Vict, NSW, WA, SA). Semua PPIA Univ akan memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi Korcab.

(4)PPIA Universitas adalah unik; unik dalam hal situasi dan potensi.
Biarkan kami berkembang dan berkreativitas dengan potensi kami dalam koridor AD/ART PPIA yang mewakili aspirasi all PPIAs (meminjam istilah Gustaf PPIA Univ adalah sebuah wadah otonomi).

Pemikiran ini menguat saat saya melihat betapa menakjubkannya kerja keras teman-teman PPIA JCU mewujudkan Indonesia Festival yang pertama (saat itu dihadiri Pak Raudin Anwar General Counsellor Kedubes Indonesia). Saya hanya membayangkan secara sederhana sebuah upaya menjaga dan membangun citra kebangsaan seperti ini hendaknya mendapat dukungan yang real dari PPI Australia maupun Cabang (maaf, in other words tidak hanya sekedar dimintai 'rencana kerja' dan 'laporan').



Opini Gustaf dalam sebuah kesempatan:

(1)saya ingin lebih terbuka menyatakan bahwa sebaiknya dalam kepengurusan mendatang istilah ranting dan bahkan cabang itu dihapus sebagaimana setiap ppia di setiap uni adalah lembaga otonomi tersendiri yang berdiri sama tinggi dengan PPIA Queensland, misalnya. Anda hanya berkoordinasi dengan PPIA di setiap Uni (dan ini tentunya akan berimplikasi dalam tata cara surat menyurat antar kita). Oh ya, PPIA Queensland tak bisa membubarkan PPIA JCU kan? Saya berbicara ini karena saya sudah membaca AD/ART. Comment tambahan saya bahwa tak menutup kemungkinan AD/ART PPIA itu diubah kan? Memang terasa radikal perubahannya, namun setidaknya hal ini bisa dijadikan wacana untuk masa mendatang. Saya lihat akan terjadi banyak sekali perubahan di AD/ART bila hal ini terjadi. Oh ya, sebagai informasi hal ini sudah pernah disinggung-singgung secara informal dalam setiap pertemuan di tubuh PPIA JCU.


Hal yang saya ingin tambahkan juga adalah bagaimana tata cara menampung aspirasi? Apakah vote lewat jalur internet (atau apapun itu yang mengizinkan orang atau lembaga memilih tanpa harus hadir dalam sebuah kongres, etc) bisa dipertimbangkan untuk masa depan? Kupikir hal ini bisa dilakukan dengan beberapa rincian pengaturan yang disepakati, tentunya



Opini Putu Liza dalam kesempatan lain (menegaskan saja):


Saya tetap menerima adanya cabang tetapi tidak menerima istilahnya. Sebaiknya istilah cabang tetap diganti. Tapi fungsi koordinasi state emang perlu... hanya sebatas koordinasi dan kompilasi. Makanya istilah cabang dan ranting itu tetap tidak mencerminkan kesetaraan.


Jadi... fungsi satu PPIA State (QLD, VIC, etc) perlu, apalagi kalo udah banyak PPIA uni nya (kayak di QLD, VIC dan NSW). Hanya ganti nama... supaya lebih sejajar. Aku tetap usulkan divisi untuk ganti cabang dan sektor untuk ganti ranting. Keren lagi, divisi sama sektor itu. Kayak bahasa Star Trek. Ato mau istilah Kuadran untuk ganti Cabang? Star Trek bangeeet!



Opini Dian (atas nama pribadi):


Hmmmm gitu ya Cha.. oke lah kalau opini ku soal konsep "Korcab" terlalu radikal (hehehe.. maaf), dan opini mu yang berpotensi lebih realistic, semoga fungsi dan peran nya benar-benar "Koordinasi "Kompilasi" dan "Mediasi" dan tidak ada lagi sense "ordinate-sub ordinate"

Opini Desni :

http://desniwaty.multiply.com/journal/item/13/Cabang-ranting_phylosophy_kayu_bakar_Polemik_seputar_AGM

© PPIA-JCU

Sunday, July 01, 2007

Global Warming, comments by Al Gore

Talking about global warming, let's spend just a bit time to digest what Al Gore, as a politician, stated:

Our home — Earth — is in danger. What is at risk of being destroyed is not the planet itself, but the conditions that have made it hospitable for human beings.

Without realizing the consequences of our actions, we have begun to put so much carbon dioxide into the thin shell of air surrounding our world that we have literally changed the heat balance between Earth and the Sun. If we don’t stop doing this pretty quickly, the average temperature will increase to levels humans have never known and put an end to the favorable climate balance on which our civilization depends.

In the last 150 years, in an accelerating frenzy, we have been removing increasing quantities of carbon from the ground — mainly in the form of coal and oil — and burning it in ways that dump 70 million tons of CO2 every 24 hours into the Earth’s atmosphere.

The concentrations of CO2 — having never risen above 300 parts per million for at least a million years — have been driven from 280 parts per million at the beginning of the coal boom to 383 parts per million this year.

As a direct result, many scientists are now warning that we are moving closer to several “tipping points” that could — within 10 years — make it impossible for us to avoid irretrievable damage to the planet’s habitability for human civilization.

Just in the last few months, new studies have shown that the north polar ice cap — which helps the planet cool itself — is melting nearly three times faster than the most pessimistic computer models predicted. Unless we take action, summer ice could be completely gone in as little as 35 years. Similarly, at the other end of the planet, near the South Pole, scientists have found new evidence of snow melting in West Antarctica across an area as large as California.

This is not a political issue. This is a moral issue, one that affects the survival of human civilization. It is not a question of left versus right; it is a question of right versus wrong. Put simply, it is wrong to destroy the habitability of our planet and ruin the prospects of every generation that follows ours. more...

Source: The New York Times, July 1st 2007 edition


© PPIA-JCU

Friday, June 01, 2007

Hari lahir Pancasila, 1 Juni, 'gitu aja kok repot?'

Saat aku berceletuk bahwa tanggal 1 Juni adalah hari lahir Pancasila, seorang temanku tersayang bertanya padaku, "Masih juga toh mikirin Pancasila?"

Pertanyaan yang wajaaaaar sekali, karena Pancasila sudah terlanjur dianggap konsep yang basi dan harus dibuang ('thanks' to the Orde Baru, huh!). Memang pemaksaan dan indoktrinasi itu menyebalkan, dan karena itulah orang jadi bosan dengan Pancasila. Apalagi jika Pancasila dikaitkan dengan kejatuhan Soeharto (yang omong2, sebenarnya juga banyak berbuat baik... cuman control management-nya buruk...) - walah, sepertinya Pancasila itu produk Orde Baru banget yang harus dibuang jauh-jauh...uh-uh-uh! Ingat gak waktu itu alergi banget untuk ngapalin dan nyebutin 36 butir Pancasila? Huek deh. Jadi saya terus terang, sempat juga alergi sama Pancasila. Orde Baru banget seh!

But no. Pancasila bukan produk Orde Baru. Pancasila pun tidak lahir pada tanggal 1 Juni 1945 pada saat Bung Karno dkk meluncurkan ide brilian tersebut. Bukan. Tanggal 1 Juni 1945 bagi saya adalah 'hari peluncuran atau launching Pancasila secara resmi'. Karena, konsep ini (saya tidak ingin menggunakan istilah 'ideologi', what a yucky thing!) adalah konsep lawas yang masih tokcer, lama tapi top.

Pancasila lahir berabad-abad yang lalu melalui berbagai proses pengertian dan apresiasi beragam budaya, adat dan agama di Indonesia (waktu itu namanya masih Nusantara). Pancasila merupakan esensi budaya bangsa, di mana keanekaragaman budaya (sila ke-2) dan pendapat (sila ke-4) dijunjung tinggi, dengan dasar rasa kasih dan perdamaian (sila ke-2), dan demi persatuan bangsa (sila ke-3).

And it's not only that! Kalo kita ditanya, tujuan hidup kita rata2 apa... pasti ada yang nyangkut ke kemakmuran deh. Nah, tanpa berusaha mendoktrinasi dalam post ini, saya mengacu lagi pada sila ke-5 yang berhubungan dengan social welfare, kemakmuran sosial. Yang sebenarnya bisa disangkutpautkan dengan lingkungan hidup juga - ahem, karena tanpa lingkungan hidup yang sehat, kita tidak akan makmur.

Dan di manakah pentingnya sila ke-1? Sepertinya ini retoris, karena bangsa Indonesia selalu percaya pada The Almighty, Yang Tertinggi dan Terbesar, Tuhan Yang Satu Jua. Dan letaknya sebagai yang pertama dalam urutan Pancasila mencerminkan sujudnya bangsa Indonesia pada yang memberikan kehidupan ini.

The thing is... sekarang banyak sekali pertikaian antara anak bangsa karena budaya, adat, agama... beda pendapat... Kita lupa esensi budaya kita, our identity, Bhinneka Tunggal Ika. Kita berbeda, tapi satu jua. Itulah yang bagi saya disebut dengan Indonesia. Warna warni itulah Indonesia, dan saya bangga menjadi bagian di dalamnya.

Bangsa Indonesia, Nusantara, memiliki sejarah yang bisa ditarik tidak hanya 500 tahun lalu, tapi bahkan hingga 2000 tahun sebelum Masehi, which means, sudah sekitar 5000 tahunan sekarang. Gosh, five thousand is a BIG number! Indonesia adalah bangsa yang besar dan berbudaya, dan esensi keindahannya, the very tool and spirit that makes Her survive, ada di dalam kebhinekaan yang satu. Ada di dalam yang namanya Pancasila.

Dan dengan demikian, berakhirlah renungan saya (dan PPIA post pertama saya!), yang tidak berbasis kepentingan politik apapun, wong saya non-partisan student. Saya hanya ingin memberikan pendapat saya... dan rasa cinta saya terhadap sang Ibu Pertiwi. And that may She understands that I never ever will leave Her, tidak pula bahwa saya akan membenci negara lain dan menjadi chauvinis. Karena nasionalisme bagi saya adalah apa yang dikatakan Bung Karno, nasionalisme di taman sari internasionalisme. Nasionalisme yang menyumbang pada perdamaian dunia. Karena kita toh hidup di satu Bumi, satu Langit, dan kita adalah satu umat manusia.

love and blessings,
Icha
© PPIA-JCU

Monday, April 30, 2007

Bunda Kartini…Kami Rindu..!!

Catatan 21 April 2007

Lebih dari separuh pelajar pasca sarjana di James Cook University adalah wanita. Berikut adalah ungkapan hati mereka “.. serasa Bunda di sini di samping kami..”

Kami di sini Bunda.. di Townsville di negeri seberang tuk menimba ilmu di James Cook University.. jauh Bunda jauuuuh.. jauh dari orang-orang yang kami cinta..
Pantai Strand.. menjadi tempat meneduhkan hati di Townsville yang terik (sekarang sih menjelang Winter, Bunda).. menjadi tempat memimpikan keindahan kala rindu melanda pada negeri.. dan pada Bunda kala 21 April kami tapaki.. dan.. hamparan pasir di Pantai Strand yang tersapu ombak menjadi lembaran padat tuk kami tulisi dengan jari..

“Bunda, terima kasih sudah membuat kami semua ingin lebih maju dan mengeksplorasi kemampuan terbaik kami. Perjuangan Bunda tidaklah sia-sia... dan semoga kaum perempuan Indonesia tetap maju dan lebih bijak di masa depan. Maklum, Ibu Pertiwi perlu perempuan-perempuan terbaik untuk membangun bangsa...”dari Icha (who thinks that Lady Kartini is Indonesia's Jane Austen, without her novels)
(Bunda, Icha di sini study doctorate ‘towards sustainable dolphin-watch tourism in Bali, Indonesia).

Bunda.. aku Puji.. sekarang sedang study Master of Protected Area Management.. terimakasih Bunda.. karena perjuangan Bunda lah aku bisa di sini..

Angel, sedang ambil Master-Tropical Ecology Bunda.. ingin kusampaikan “Kesukaran tiada henti yang dihadapi wanita ketika eksistensinya diabaikan, terkikis sudah. Thanks to Kartini” tapi Bunda semoga wanita Indonesia mampu menyeimbangkan kiprahnya ‘tuk negeri sehingga tidak menjadi maaf.. “Kartini” (KARir TIada heNtI)

Master of Sciences di bidang Tropical Agriculture tengah dijalani Farida Damayanti, didampingi suami tercinta, perjalanan panjang studiku harus kubagi dan kuseimbangkan dengan perhatian untuk suamiku.. “Ibu, terima kasih”

“Jika Ibu Kartini ada di sini, maka aku akan bilang, ‘Bu.. make a big wish for each wonderful thing, and we will get ready to see the future will bring.’ Salam sayang dari Lita, saat ini menekuni Master di bidang Eco-tourism.”

Bunda, pertiwi makin banyak dihadapkan pada masalah dan tantangan, diantaranya flu burung, kelak aku ingin memiliki semangat juang seperti Bunda untuk berkarya pada negeri.. Desniwaty tengah berjuang meraih Master of Sciences dengan topic penelitian
“Molecular epidemiology of Avian influenza and Newcastle disease using samples and transported without a cold chain”.

Dian Latifah, tengah mengemban amanat sebagai Presiden PPIA, ditengah kerja keras menapaki study doctorate, duh.. harus dengan kesabaran dan semangat juang seperti Bunda dulu berjuang untuk hak Perempuan atas kesempatan belajar dan berkarya seperti pria.. jika Bunda di sini ingin kuucapkan terimakasih mendalam padamu Bunda.. dan ajari daku semangat juangmu nan tiada henti.. (topik penelitian “Population structure and regeneration of palms (Arecaceae) in response to cyclone disturbances, North Queensland, Australia”)


© PPIA-JCU