Sunday, July 15, 2007

Mas Pram dan Burungnya…

Setelah lebih dari tiga tahun merantau di Cairns, North Queensland Australia, dan menjalani field research termasuk me-nongkrongi atap bangunan (juga candi Prambanan?) mas Pramana Yuda (tergantung bacanya gaya Sunda, Jawa, ato Bali) akhirnya kelar melaksanakan exit seminarnya tentang Ecology and conservation of the Java sparrow (Padda oryzivora) hari Selasa, 10 Juli 2007 yang lalu. Saya dan Dian dengan semangatnya datang ke room DA 009 - 001 di kampus Townsville... dan menemukan bahwa yang datang ternyata cuman kita berdua, plus mantan supervisornya mbak Miki (Prof Ross Crozier). Ya wis, bertiga ya bertiga menikmati teleconference dari Cairns di Townsville (yang di ruang conference Cairns sih ramai).

Presentasi mas Pram tentang sang burung Gelatik Jawa (yang rajin ‘sembahyang Maghrib’ hehe...) sangat menarik, terutama dari sudut pandang conservationist kayak saya. Dan saya harus akui, saya salut dengan powerpoint mas Pram yang bersih, enak dibaca (hurufnya besar, dan tidak menuh-menuhin layar) dan renyah isinya. Plus, kata Madam President Dian Latifah, mas Pram pake baju batik kebangsaannya.



Segala genetik, saya ga usah bahas ya. Ora dhong detile. Tapi yang jelas penelitiannya mas Pram menemukan bahwa sang burung gelatik jawa yang nama latinnya Padda oryzivora ini ternyata berasal dari satu dua kawasan yang berdekatan di Prambanan dan sekitarnya, dan pada masa inter-glacial terakhir menyebar ke tempat-tempat lain, walaupun masih di Jawa saja (Bali ada ya? Lupa saya... ga ada pptnya sih...). Status konservasi sekarang vulnerable, dan terancam bisa ‘upgrade’ ke endangered kayaknya, kalo perburuan demi menyenangkan hati para pecinta sangkar dan burung dalam sangkar tetap berlanjut seperti sekarang (On that note, saya sempat menyanggah mas Pram bahwa strateginya sebaiknya adalah mendidik para pecinta burung sangkar itu, bukannya memasukkan gelatik jawa dari Kalimantan – yang kayaknya migrasi ke sana karena dibawa orang...).


In any case, excellent presentation. Detilnya minta mas Pram, sebelum beliau balik ke Indonesia dan kehilangan akses broadband extra cepat... hiks! Dan belajar dari mas Pram cara buat presentasi yang enak dipandang mata, dan tidak nyumpek2in pemirsa karena kebanyakan huruf. By the way, saya senang dengan referensi perangko-perangko dari segala penjuru dunia yang menggambarkan gelatik jawa (buset, ngetop juga tuh burung!) dan juga tentang Jepang, bahwa orang Jepang ternyata mengadopsi sang gelatik jawa dalam lukisan-lukisan mereka. Aduh, lutuna....lutuna... (baca: Lucunya).

.. dan tepat pada tanggal peluncuran catatan Putu Liza ini.. Mas Pram beserta keluarga terbang bersama burung baja "Java Sparrow" kembali ke tanah air tercinta.. di email terakhir Mas Pram sebelum berangkat dari Cairns.. Mas Pram missed much many Javanese-local foods..

Pic 1: Java Sparrow, dari sini

Pic 2: Mas Pram seminar, dari Dian Latifah

Pic 3: ukiyo-e (Japanese painting), oleh Ryuu Shimazazi ("Java Sparrow"), 1912 dari sini


© PPIA-JCU

No comments: