Tuesday, April 24, 2007

Cerita dari Istana Wandella

Seandainya Istana Wandella adalah Istana Merdeka saat ini, yang pasti tuan rumanya bahkan tak perlu menginstruksikan untuk belanja, menyediakan makan, mencari sopir untuk perjalanan dinas dan (apalagi) membersihkan rumah dan halaman. Tuan rumahnya tinggal menikmati. Bicara tentang membersihkan halaman, Istana Merdeka barangkali menggunakan sistem shift dan kegiatannya bersifat terjadwal. Pasti pegawai pembersihnya sangat banyak, untuk setiap aspek di dalam taman pasti punya tenaga ahli dan tenaga kerja sendiri. Bila terjadi sesuatu pada pegawai (terkena pisau, misalnya), dengan cekatan divisi palang merah langsung menanganinya. Itu baru pegawai, apalagi bila presidennya yang kena ya? Hal yang sama antara Istana Wandella dan Istana Merdeka adalah keduanya didiami oleh pemimpin dan tempat tinggalnyapun hanya sementara. Sementara yang membedakan cukuuup banyak mulai dari kondisi Istana, ukuran, sampai pada siapa yang memotong rumput halaman ;-)

Lepas dari langit dan bumi-nya perbedaan kedua istana ini, kebanggaan dari Istana Wandella adalah dia didiami oleh presiden dan secretary of the state dan lagi, keduanya wanita! Wujud semangat Kartini yang tak pernah pupus! Seandainya Kartini menempatinya, barangkali tak hanya rangkaian tulisan Habis Gelap Terbitlah Terang yang bisa ditulisnya....


© PPIA-JCU

3 comments:

G-nonymous said...

Kenapa Kartini gak hanya menulis Habis Gelap terbitlah Terang bila beliau tinggal di Wandella? Kenapa hayo....

Karena tulisan tambahannya bisa saja bercerita tentang perjuangan presiden dan secretary of the state nangis bareng meratapi nasib saat mowing, apalagi sang presiden terkena "batu" nyasar ;-)

Dian Latifah said...

huuuu so sweet tulisanmu Goes.. halah nangis lagee deh..

Icha said...

Mangkanya, gara2 ada kecelakaan kerja itulah maka sang sekretaris baru nyadar kalo Istana Negara TIDAK PUNYA P3K!!! Cilaka! Mana hari ini libur pulak, jadi ga bisa beli first aid box. Baru besok deeehhh!