Percakapan kala itu seputar winter di Townsville yang lebih dingin dari tahun sebelumnya.. temperatur 8 derajat pun tiba lebih awal.. cukup membuat shock penghuni kota Townsville.. apalagi sang Surya enggan menyembul karena awan enggan beranjak memayungi kota.. tapi petang itu, Minggu, 24 Juni, sungguh berbeda.. Sang Surya mau juga menampakkan diri meski sekejap.. tepat acara melepas seorang Postdoc mba Ekowati dan Pak Roy (student spouse) yang telah membuat ajang volley makin seru.. Selamat jalan Mba Eko dan Pak Roy, kembali berkarya di tanah air, Indra semoga kembali lagi sebagai student di JCU..
photos at: ppia jcu @ multiply
© PPIA-JCU
Monday, June 25, 2007
Monday, June 11, 2007
Alligator Creek
Tak tahu apa yang akan dibuat di Queen's Birthday holiday, beberapa students dan keluarganya menggunakan kesempatan jalan-jalan di sekitar Townsville. Hari ini tujuannya adalah Alligator Creek, tiga puluh kilometer sebelah selatan Townsville. Di sana ada sebuah Creek, namanya Alligator tentunya ;-), namun bukan berarti ada alligator di dalamnya. Di sepanjang sungai kecil itu banyak terlihat ikan yang berenang di air yang jernih. Begitu teduh terasa. Tempatnya diperlengkapi dengan areal piknik dan kemping, enak juga menjadi tempat pelariaan di saat gundah. More photos at: http://ppiajcu.multiply.com© PPIA-JCU
Labels:
get away ala student
Friday, June 01, 2007
Hari lahir Pancasila, 1 Juni, 'gitu aja kok repot?'
Saat aku berceletuk bahwa tanggal 1 Juni adalah hari lahir Pancasila, seorang temanku tersayang bertanya padaku, "Masih juga toh mikirin Pancasila?"Pertanyaan yang wajaaaaar sekali, karena Pancasila sudah terlanjur dianggap konsep yang basi dan harus dibuang ('thanks' to the Orde Baru, huh!). Memang pemaksaan dan indoktrinasi itu menyebalkan, dan karena itulah orang jadi bosan dengan Pancasila. Apalagi jika Pancasila dikaitkan dengan kejatuhan Soeharto (yang omong2, sebenarnya juga banyak berbuat baik... cuman control management-nya buruk...) - walah, sepertinya Pancasila itu produk Orde Baru banget yang harus dibuang jauh-jauh...uh-uh-uh! Ingat gak waktu itu alergi banget untuk ngapalin dan nyebutin 36 butir Pancasila? Huek deh. Jadi saya terus terang, sempat juga alergi sama Pancasila. Orde Baru banget seh!
But no. Pancasila bukan produk Orde Baru. Pancasila pun tidak lahir pada tanggal 1 Juni 1945 pada saat Bung Karno dkk meluncurkan ide brilian tersebut. Bukan. Tanggal 1 Juni 1945 bagi saya adalah 'hari peluncuran atau launching Pancasila secara resmi'. Karena, konsep ini (saya tidak ingin menggunakan istilah 'ideologi', what a yucky thing!) adalah konsep lawas yang masih tokcer, lama tapi top.
Pancasila lahir berabad-abad yang lalu melalui berbagai proses pengertian dan apresiasi beragam budaya, adat dan agama di Indonesia (waktu itu namanya masih Nusantara). Pancasila merupakan esensi budaya bangsa, di mana keanekaragaman budaya (sila ke-2) dan pendapat (sila ke-4) dijunjung tinggi, dengan dasar rasa kasih dan perdamaian (sila ke-2), dan demi persatuan bangsa (sila ke-3).
And it's not only that! Kalo kita ditanya, tujuan hidup kita rata2 apa... pasti ada yang nyangkut ke kemakmuran deh. Nah, tanpa berusaha mendoktrinasi dalam post ini, saya mengacu lagi pada sila ke-5 yang berhubungan dengan social welfare, kemakmuran sosial. Yang sebenarnya bisa disangkutpautkan dengan lingkungan hidup juga - ahem, karena tanpa lingkungan hidup yang sehat, kita tidak akan makmur.
Dan di manakah pentingnya sila ke-1? Sepertinya ini retoris, karena bangsa Indonesia selalu percaya pada The Almighty, Yang Tertinggi dan Terbesar, Tuhan Yang Satu Jua. Dan letaknya sebagai yang pertama dalam urutan Pancasila mencerminkan sujudnya bangsa Indonesia pada yang memberikan kehidupan ini.
The thing is... sekarang banyak sekali pertikaian antara anak bangsa karena budaya, adat, agama... beda pendapat... Kita lupa esensi budaya kita, our identity, Bhinneka Tunggal Ika. Kita berbeda, tapi satu jua. Itulah yang bagi saya disebut dengan Indonesia. Warna warni itulah Indonesia, dan saya bangga menjadi bagian di dalamnya.
Bangsa Indonesia, Nusantara, memiliki sejarah yang bisa ditarik tidak hanya 500 tahun lalu, tapi bahkan hingga 2000 tahun sebelum Masehi, which means, sudah sekitar 5000 tahunan sekarang. Gosh, five thousand is a BIG number! Indonesia adalah bangsa yang besar dan berbudaya, dan esensi keindahannya, the very tool and spirit that makes Her survive, ada di dalam kebhinekaan yang satu. Ada di dalam yang namanya Pancasila.
Dan dengan demikian, berakhirlah renungan saya (dan PPIA post pertama saya!), yang tidak berbasis kepentingan politik apapun, wong saya non-partisan student. Saya hanya ingin memberikan pendapat saya... dan rasa cinta saya terhadap sang Ibu Pertiwi. And that may She understands that I never ever will leave Her, tidak pula bahwa saya akan membenci negara lain dan menjadi chauvinis. Karena nasionalisme bagi saya adalah apa yang dikatakan Bung Karno, nasionalisme di taman sari internasionalisme. Nasionalisme yang menyumbang pada perdamaian dunia. Karena kita toh hidup di satu Bumi, satu Langit, dan kita adalah satu umat manusia.
love and blessings,
Icha
© PPIA-JCU
Labels:
Opini
Thursday, May 31, 2007
Selamat Hari Raya Waisak
Hari Raya Suci Tri Waisak merupakan hari raya terbesar Agama Buddha, dimana memperingati tiga peristiwa penting, yakni kelahiran Sidharta, pencapaian penerangan sempurna oleh petapa Gautama dan Parinibanna-Nya Sang Buddha. Bagi teman-teman yang merayakan hari suci ini, segenap crew PPIA mengucapkan "Selamat Hari Raya Waisak 2007", semoga semangat akan kehadiran nilai-nilai kemanusiaan akan memberikan kebahagiaan kepada sesama.
© PPIA-JCU
© PPIA-JCU
Labels:
announcement
Monday, May 28, 2007
Tentang Tenancy, apa hak dan kewajiban kita?
Pertemuan kali ini bersifat lebih serius, karena topiknya serius: Sustainable Tenancy, Rights and Responsibilities for Newly Arrived Migrants and Refugees. Topik yang sangat berhubungan dengan yang dialami oleh students selama ini: sewa rumah. Tak banyak yang mengetahui hak dan kewajiban tenants dalam kegiatan sewa-menyewa rumah ini antara landlord atau agen dengan student dan keluarganya. Kegiatan ini sendiri digagas oleh Townsville Multicultural Support Group Inc (TMSGI) dan bekerjasama dengan PPIA-JCU. Ibu Kasma Hem & Rahila Talic mewakili TMSGI, bersama mereka turut juga Jenny King dari Residential Tenancies Authority (RTA) sebagai inviting speaker khusus memberikan advokasi tentang bagaimana hak students terhadap tekanan yang bisa saja datang dari agen atau landlord.
Setelah perkenalan singkat, acarapun berlangsung singkat, namun berbobot. Mbak Kasma memaparkan garis besar bagaimana memulai tenancy sampai mengakhirinya, dengan berapi-api. Tanya jawab diladeni oleh Jenny King dan mbak Kasma mulai dari masalah agen/landlord yang masuk tanpa pemberitahuan sampai yang lebih parah yaitu dengan mengeluarkan tenants secara tiba-tiba. Namun, hal yang menyangkut syarat calon tenant untuk mendapatkan rumah yang diinginkan masih merupakan rahasia si agen atau landlord walaupun beberapa kondisi terpenuhi, begitu kata Jenny. Hal ini terangkat karena masalah mendapatkan tempat tinggal bagi orang asing merupakan masalah yang utama selain ”kesewenangan” agen atau landlord.
Melewati topik yang serius membuat perut lapar. PPIA mengucapkan terima kasih buat TMSGI yang telah menyiapkan makanan yang lezat. Di akhir acara, keluarga Gavin Lee bergabung merayakan ulang tahun anaknya, Chiquita. Lengkaplah sudah kegembiraan keluarga PPIA hari ini. Selamat Ulang Tahun Chiquita!
© PPIA-JCU
Setelah perkenalan singkat, acarapun berlangsung singkat, namun berbobot. Mbak Kasma memaparkan garis besar bagaimana memulai tenancy sampai mengakhirinya, dengan berapi-api. Tanya jawab diladeni oleh Jenny King dan mbak Kasma mulai dari masalah agen/landlord yang masuk tanpa pemberitahuan sampai yang lebih parah yaitu dengan mengeluarkan tenants secara tiba-tiba. Namun, hal yang menyangkut syarat calon tenant untuk mendapatkan rumah yang diinginkan masih merupakan rahasia si agen atau landlord walaupun beberapa kondisi terpenuhi, begitu kata Jenny. Hal ini terangkat karena masalah mendapatkan tempat tinggal bagi orang asing merupakan masalah yang utama selain ”kesewenangan” agen atau landlord.
Melewati topik yang serius membuat perut lapar. PPIA mengucapkan terima kasih buat TMSGI yang telah menyiapkan makanan yang lezat. Di akhir acara, keluarga Gavin Lee bergabung merayakan ulang tahun anaknya, Chiquita. Lengkaplah sudah kegembiraan keluarga PPIA hari ini. Selamat Ulang Tahun Chiquita!
![]() | ![]() |
© PPIA-JCU
Labels:
Seminar
Australian-Italian Festival at Ingham
Terpesona dengan iklan membuat beberapa students dan keluarganya berangkat ke kota Ingham107 km utara Townsville. Sejak jumat 18 sampai minggu 20 Mei 2007 kota Ingham semarak dengan Italian Festival-nya. Walaupun menggunakan ”Italian” namun sebenarnya festival ini bersifat multiculture. Diadakan pertama kali pada tahun 1994 yang disponsori oleh komunitas Italian dan keturunannya di Kota Ingham, kota dengan komposisi Italian kurang lebih 60 persen dari penduduknya. Motonya sederhana: Mangiamo, Beviamo and Cantiamo (Eat, Drink and Celebrate)!
Perjalanan hanya memakan waktu kurang lebih satu setengah jam, namun beberapa saat rombongan singgah di Frosty Mango yang terkenal itu, untuk mencicipi ice cream yang ternyata memiliki rasa… ice cream juga . Perjalanan ke Ingham memang sudah direncanakan sejak minggu sebelumnya, namun bermalam di dalam tenda hanya tercetus sesaat sebelum berangkat. Akibatnya beberapa students terpaksa meminjam tenda dari mbak Igam, orang Indonesia yang tinggal di Ingham (cocok juga namanya ama kotanya ya?). Saking excitednya, setelah istirahat sejenak di rumahnya mbak Igam, semua students langsung ke arena festival. Uang masuk 5 dollar untuk dewasa, tanpa karcis hanya stempel. Stempel itu berlaku selama festival asal jangan mandi, kata the gate keeper. Ternyata sore itu tak ada apa-apa, hanya seperti kegiatan pameran di Indonesia, kata salah seorang student. Semuanya berkeringat, panas juga sore itu. Tiba-tiba salah seorang sadar bahwa keringat juga bisa menghapus stempel. Semuanyapun bergegas mencari perlindungan, cooling down.
Malamnya mereka balik lagi berbekal stempel. Di sebuah panggung terbuka sementara diadakan pementasan ”main api”. Lima laki-laki tangguh menampilkan keahliannya memainkan api. Tapi toh bukan berarti atraksi ini tanpa perlindungan. Di deretan penonton terdepan ternyata duduk beberapa orang dari satuan pemadam kebakaran. Beberapa saat setelah itu penonton diberi kesempatan mencari makanan. Nah, inilah pekerjaan yang paling sulit. Mendapatkan makanan yang enak harus rela antri lama. Kayaknya kebanyakan penonton sudah tahu kantin mana yang menyajikan makanan yang lezat walaupun toh tidak gratis (seperti kabar burung sesama Indonesian students sebelumnya). Beberapa acarapun berlalu seperti final lomba makan pizza paling cepat dan beberapa games yang melibatkan penonton. Ternyata acara malam itu, cuma itu! Jalan-jalan mengitari arena festival ternyata tak bisa membunuh kebosanan. Festival ini seperti pasar malam di kecamatan saja, celutuk student yang lain. Merekapun berlalu, melanjutkan malam dengan main kartu.
© PPIA-JCU
Perjalanan hanya memakan waktu kurang lebih satu setengah jam, namun beberapa saat rombongan singgah di Frosty Mango yang terkenal itu, untuk mencicipi ice cream yang ternyata memiliki rasa… ice cream juga . Perjalanan ke Ingham memang sudah direncanakan sejak minggu sebelumnya, namun bermalam di dalam tenda hanya tercetus sesaat sebelum berangkat. Akibatnya beberapa students terpaksa meminjam tenda dari mbak Igam, orang Indonesia yang tinggal di Ingham (cocok juga namanya ama kotanya ya?). Saking excitednya, setelah istirahat sejenak di rumahnya mbak Igam, semua students langsung ke arena festival. Uang masuk 5 dollar untuk dewasa, tanpa karcis hanya stempel. Stempel itu berlaku selama festival asal jangan mandi, kata the gate keeper. Ternyata sore itu tak ada apa-apa, hanya seperti kegiatan pameran di Indonesia, kata salah seorang student. Semuanya berkeringat, panas juga sore itu. Tiba-tiba salah seorang sadar bahwa keringat juga bisa menghapus stempel. Semuanyapun bergegas mencari perlindungan, cooling down.
Malamnya mereka balik lagi berbekal stempel. Di sebuah panggung terbuka sementara diadakan pementasan ”main api”. Lima laki-laki tangguh menampilkan keahliannya memainkan api. Tapi toh bukan berarti atraksi ini tanpa perlindungan. Di deretan penonton terdepan ternyata duduk beberapa orang dari satuan pemadam kebakaran. Beberapa saat setelah itu penonton diberi kesempatan mencari makanan. Nah, inilah pekerjaan yang paling sulit. Mendapatkan makanan yang enak harus rela antri lama. Kayaknya kebanyakan penonton sudah tahu kantin mana yang menyajikan makanan yang lezat walaupun toh tidak gratis (seperti kabar burung sesama Indonesian students sebelumnya). Beberapa acarapun berlalu seperti final lomba makan pizza paling cepat dan beberapa games yang melibatkan penonton. Ternyata acara malam itu, cuma itu! Jalan-jalan mengitari arena festival ternyata tak bisa membunuh kebosanan. Festival ini seperti pasar malam di kecamatan saja, celutuk student yang lain. Merekapun berlalu, melanjutkan malam dengan main kartu.
![]() | ![]() |
© PPIA-JCU
Labels:
get away ala student
Subscribe to:
Posts (Atom)

