Friday, December 15, 2006

Detik-detik yang menentukan

Di belakang cerita pemilihan Presiden PPIA yang baru, ternyata begitu menegangkan. Inilah saat-saat dimana terjadi pengalihan kekuasaan secara demokratis!



Akhirnya, saat yang dinantikan tiba. Proses pemilihan berjalan dengan lancar dan terkendali. Walau ada beberapa interupsi tapi itulah suasana demokratis. Suasana yang dibangun oleh kedewasaan berpikir dan bertindak. Interupsinya misalnya tentang kriteria calon Presiden. Salah seorang mengusulkan bahwa setiap calon harus mempunyi rumah dan mobil karena anggaran pengadaan perumahan dan mobil memang tidak ada. Kalau tak ada mobil berarti harus siap jalan kaki, karena tidak ada anggaran perjalanan dinas, belanja rumah tangga, dst... dst... Ada juga yang mengusulkan bahwa calon presiden bukan calon tunggal, minimal dua calon dan itupun harus memiliki buntut + dan -> hal ini untuk menjunjung tinggi persamaan gender.

Teknologi canggih juga berperan dalam pemilihan ini dengan menggunakan televoting. Students yang berhalangan (sengaja maupun tak sengaja) akhirnya memilih juga. Semua jaringan komunikasi dibuka dengan security yang ketat supaya hanya students anggota PPIA JCU yang memiliki akses dapat memilih, tanpa penyusup!




© PPIA-JCU

Thursday, December 14, 2006

Selamat buat Presiden Baru!

Setelah melewati masa penundaan sidang berkali-kali bahkan sampai berhari-hari akhirnya Presiden PPIA-JCU periode 2006-2007 terpilih. Sidang sebelumnya direncanakan di Magnetic Island dan beberapa tempat strategis di pusat kota dibatalkan mengingat kesibukan para anggota yang tak bisa meninggalkan pekerjaannya dalam waktu lama. Akhirnya, Chaplaincy JCU pun menjadi pilihan terakhir! Di tempat ini pada hari Kamis 14 Desember 2006, jam 1 siang, Dian Latifah terpilih menjadi Presiden PPIA JCU yang baru menggantikan Muhammad Aryadi Arsyad.

Selamat bertugas Dian!
& Terima kasih buat Aryadi.

© PPIA-JCU

Wednesday, December 13, 2006

Ada apa di Unihealth cafe on Wednesday the 13th?


Parade ulang tahun anggota PPIA masih berlangsung. Hari ini adalah hari sukacita Desniwaty Karo-karo. Dia berulang tahun! Cafe di Uni-health menjadi saksi!

Selamat ulang tahun Desni!

© PPIA-JCU

Pertanggungjawaban & pengakuan ++ (plus plus) dari seorang Yansen

Tak ada salahnya edisi ini kita tampilkan kombinasi pertanggungjawaban dan pengakuan, dan lain lainnya dari seorang Yansen, sang wisudawan S2 James Cook University angkatan 2006. Merdeka!

Red.

----
Salam semuanya,

Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan tiga hal: volley, pamitan dan terima kasih.

Karena tidak ada lagi yang berkesempatan main volley dan juga sudah liburan, bola volley akan dihentikan. Karena saya akan segera pulang ke Indonesia, perlengkapan bola volley akan diserahkan ke Presiden PPIA. Saya sebagai sie. Olahraga mengucapkan terima kasih atas dukungannya pada pelaksanaan kegiatan olahraga PPIA selama satu tahun penuh. Saya juga minta maaf atas segala kekurangan dalam mengurusi kegiatan olahraga.

Di samping itu, karena saya dan keluarga akan segera meninggalkan Australia, kita ingin mengucapkan selamat tinggal. Kita mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan, dukungan dan kebaikannya selama kita di sini. Mulai dari penjemputan di bandara, menyiapkan akomodasi dan menyediakan makan malam pertama kita. Terima kasih banyak untuk Pak Coco sekeluarga, Ibu Ghita sekeluarga, Mba Johanna, Rusaini dan semua teman-teman PPIA ketika itu. Ini adalah perjalanan pertama saya keluar negeri. Sulit membayangkan sebelumnya seperti apa living in overseas. Tapi, semuanya menjadi lancar berkat bantuan teman-teman PPIA. Terima kasih untuk Rusaini yang telah mengantarkan kita keliling pada hari pertama: buka bank account, medibank dan tetek bengek lainnya.

Selaksa pengalaman hidup yang saya dan keluarga dapatkan di sini. Inilah yang mungkin disebut sekolah kehidupan. Banyak ragam pekerjaan yang dilakoni di Townsville yang penuh suka dan duka. Sukanya ya saat gajian. Dukanya, ya capek sampai digigit anjing. Tapi, "Tetap semangat!" Kata Sony Tulung. Di samping belajar di JCU, saya juga, Alhamdulillah, belajar juga di Townsville University. Dan tentu saja, teman-teman semua adalah gurunya. Terima kasih kepada Pak Hasan dan keluarga, yang telah menjadi housemate kita sekeluarga selama di Australia. Terima kasih tak terhingga lagi buat Pak Coco dan keluarga yang telah sibuk mengurusi kita. Mulai dari mengantarkan kita untuk beli sepeda, bersibuk-sibuk membantu merencanakan kedatangan keluarga sampai membantu dan menyemangati untuk beli mobil. Saya tidak pernah membayangkan sebelum berangkat ke Australia akan beli mobil di sini, karena memang tidak bisa menyetir sebelumnya. Juga Ibu Ghita dan Pak Hasbi yang telah direpoti untuk menjemput keluarga ketika datang dan sering diminta bantuannya. Irwan yang menjadi classmate dan membantu penelitian. Adi dan keluarga yang sering kita minta bantuannya. Gustaf yang sering diintip catatan di blognya, terima kasih atas pencerahannya. Aufklarung, kata Jurgen Habermas. Pak Jack untuk obrolan dan ketegarannya. Pak Halmar dan Mbak Ita yang sering membagi kreasi makanannya. Dan semua teman-teman lainnya: Icha sekeluarga, Pak Patrice, Pak Peter, Pak Parjiono, Dian, Bu Eko dan Desni yang telah menjadi bagian dari sejarah kehidupan keluarga kecil kami. Juga untuk para residents. Terima kasih kepada Pak Muslim yang telah menyuplai kita dengan tempe dan tahu. Di samping terus mengkonsumsi (susu) ikan (teri dan asin), kata Pak Coco, kita tetap mengkonsumsi (susu) kedelai dalam format tempe. Alhasil, kita tetap jadi manusia Indonesia yang bermental tempe, dalam makna positif kata Pak Harto, dan berjiwa baja. Amerika kita setrika, Inggris kita linggis! Teriak Bung Karno di depan massa rapat raksasa, Lapangan Ikada. Juga kepada Kak Etha cs, yang begitu antusias datang pada minggu sore. Berkat saudara semua, hidup kami jadi lebih mudah dan enjoy. Tak perlu mengeluarkan ginkang, istilah Kho Ping Hoo. Tentu saja, Townsville menjadi bab sendiri dalam catatan keluarga kami. Ini akan menjadi archetypes, menurut Carl Gustav Jung, dalam sejarah hidup keluarga kami.

Selama berinteraksi dan bergaul, tentu saja tak terhindari ucapan, tindakan dan tingkah laku kita yang kurang berkenan, sengaja ataupun tidak. Karenanya, saya dan keluarga mengucapkan maaf yang setulusnya jika ada teman-teman yang merasa marah, tersinggung ataupun terzalimi oleh kita sekeluarga.


more at http://theyansenfamily.blogspot.com/

© PPIA-JCU

Wednesday, December 06, 2006

Graduation day!

SELAMAT BUAT TEMAN-TEMAN LULUSAN JAMES COOK UNIVERSITY

Foto para graduates

Beberapa menit lewat jam satu siang tadi, Vice-Canchellor James Cook University Prof. Bernard Moulden mewisuda sembilan orang Indonesia, lima orang yang mengikuti program Master dan empat orang program Doktor. Jumlah wisudawan dan wisudawati dari Indonesia ini adalah terbesar dalam sejarah James Cook University, the leading university for tropical studies. Kesembilan graduates ini termasuk dalam dua puluh satu orang Ausaid students yang lulus dalam periode ini. Acara yang dipandu langsung oleh Liasion Officer Ausaid, Alex Salvador berlangsung sederhana, meriah dan memikat. Githarina, wisudawan program doktoral berasal dari Indonesia mewakili para lulusan menyampaikan kesan selama studi di James Cook University. Selanjutnya Prof. Moulden berkesempatan memberikan sambutan tentang begitu berharganya para lulusan selama studi di JCU sebagaimana juga harapannya saat wisudawan kembali ke negara asal. Beliaupun berkesempatan foto bersama sejenak dan berbicara begitu akrab dengan para wisudawan.

Ternyata penganan yang disajikan di acara itu tak terasa lengkap walaupun berbagai macam cakes dan bread tersaji begitu mempesona, orang Indonesia tetap saja mencari nasi. Akhirnya, "penutupan acara" tak resminya berlangsung di sebuah restoran di pusat kota, setelah itu baru semuanya bubar!

© PPIA-JCU

Friday, December 01, 2006

Make a day!

Jumat 1 Desember 2006, antara jam 10 sampai 12 siang, Conference Room HC209 menjadi saksi bisu ketika seorang anak bangsa dengan taktis mempertahankan disertasi PhD-nya: Tax reform in Indonesia; is there any trade off between efficiency and equity?


Selamat buat Johanna Kodoatie, SE, MEc, PhD


© PPIA-JCU