Wednesday, February 27, 2008

M. Erdi Lazuardi



Tamu kita kali ini, M. Erdi Lazuardi, Conservation Science and Monitoring Coordinator dari Conservation International Indonesia. Erdi berada di Townsville selama 3 minggu dan hari ini dia kembali ke Indonesia. Ia datang untuk training dan bekerja di Museum of Tropical North Queensland, Townsville. Erdi pulang hari ini dan menyempatkan diri mampir ke Wandella.. mohon doa agar bisa kembali bulan November nanti serta kelak bisa melanjutkan studi di James Cook University.. aamiin.

Ia juga datang memecah kesunyian.. baik kesunyian 'dapur Wandella' (karena ia datang dan ada masakan dari dapur Wandella), Wandella's living room (ia datang dan gitar pun dimainkan) serta Wandella's lawn (ia datang mower pun berlari) serta.. voli pun kembali riuh di lapangan Cranbrook. Nikmati foto selengkapnya.

© PPIA-JCU

Terbalas sudah


Foto saat gathering di Cranbrook Park. Inzet: Yansen dan Egy

Walau di minggu tanggal 17 Februari tak teredengar gedebuk bola voli di smes oleh pemain utusan Bengkulu (Yansen), namun seminggu sesudahnya Yansen membayar kesempatan yang hilang di minggu sebelumnya. Bersama dengan beberapa pemain internasional (International All Stars), dia berhasil melibas klub lokal dengan berbagai variasi smesnya yang dahsyat. "Aku bermain sebenarnya bukan untuk membalas sakit hati tak bisa main akibat hujan di minggu sebelumnya", begitu kilah Yansen. Lantas apa? Tak ada jawaban sampai pada sebuah wawancara eksklusif dengan istrinya. Istri Yansen berhasil menguak rahasia kebringasan suaminya di lapangan bola voli. "Sebenarnya bukan masalah dendam dengan waktu, mas", begitu kata istri Yansen saat memulai percakapan. "Tapi, suamiku membalas dendam dengan diri sendiri". Lho, maksudnya? "Begini mas, saat ini suamiku sempat naik sepuluh kilo sejak kepulangannya ke Indo kemaren, jadi sekarang dia ingin membakar semua lemak yang masih tersisa", beber istri Yansen lebih mendetail.

Begitulah sekelumit cerita dari Yansen yang saat ini melanjutkan studi ke level PhD setelah menyelesaikan Masternya dari James Cook University, lebih setahun yang lalu. Yansen bersama Egy (yang mendalami studi budidaya organisme laut) datang ke Townsville sebulan yang lalu. Saat ini adalah awal semester bagi keduanya. Mereka berdua menyemarakkan lapangan voli Cranbrook Park di setiap minggu. Setelah dientertain dengan permainan apik mereka, Egy melanjutkannya dengan petikan gitar di saat turun minum.

© PPIA-JCU

Sunday, February 10, 2008

Minggu yang sendu

Pagi tadi begitu ceria. Matahari tak segannya tersenyum bahkan kadang tertawa (baca: menyengat) menyemangati orang Townsville, apalagi bagi sebagian masyarakat Indonesia di Townsville (termasuk para students). Mengapa tidak? Di hari minggu ini adalah puncak dari sekian sms-an, email-an maupun telpon-an yang berisi panggilan: Maen voli yuuk? dan jangan lupa bawa penganan ringan ya?! Bahkan sampai semalam, di rumah keluarga Gavin & Selvia Lee cerita maen voli menjadi salah satu bahan diskusi utama para undangan.

Sayang seribu sayang. Ternyata birunya langit di pagi hari tak menjamin datangnya awan mendung di sore hari. Ternyata juga, awan sore ini tak datang bukan hanya mengelabukan hari namun (sedihnya) dia menangis! Air matanya jatuh dan tak mereda sampai berita ini diturunkan. Tak ayal, banana muffins yang di bake tak akan pernah sampai ke lapangan voli. Lebih setengah sudah menumpuk di perut pembuatnya. Belum lagi ada berapa banyak spring rolls, perkedel jagung, dan cakes yang dikonsumsi sendiri.... Hukhukhuk... Tega nian dikau hujan...


(maaf bila foto berkorelasi terbalik dengan isi cerita)

© PPIA-JCU

Saturday, February 09, 2008

Eco-prison

Banyak hal yang berlabel eco- baik (memang) untuk penyelamatan bumi maupun trik bisnis. Jujur saja, akhir-akhir ini banyak kalangan bisnis menggunakan mainstream "go green" untuk memperlebar pasar kekuasaannya. Agaknya, dititik ini sebagian tree huggers dan pengikut anti kapitalisasi berseteru padahal keduanya berpadu menentang industrialisasi. Nah, kalau berbicara tentang konflik, kita akan berbicara hukum! Siapa salah di mata hukum akan kena sanksi! Masuk penjara, misalnya. Penjara terkenal akan keangkerannya walau toh 'dilembutkan' dengan istilah Lembaga Pemasyarakatan yang diartikan sederhana sebagai lembaga yang membuat orang di dalamnya bisa membaur dengan masyarakat biasa. Norwegia menawarkan solusi baru. Mereka membuat sebuah lembaga pemasyarakatan yang berlabel Eco. Apalagi istilah ini? Ternyata si Eco-prison-nya Norwegia ini memberikan tempat bagi para kriminal (bahkan kelas kakap sekalipun) untuk hidup with eco-style. Sebagian besar energi dipakai dengan menggunakan sistem daur ulang, sinar matahari dan kayu bakar, bahkan bahan bakarnya berasal dari bio-fuel (bahan bakar yang baru dipromosikan massal di nusantara). Tempatnya nyaman, berada di sebuah pulau, indah lagi. Penjaganya tak bersenjata. Para kriminal juga berusaha di berbagai bidang, kebanyakan pertanian dan peternakan. Pertanyaannya: bila si Eco-prison ini berada di Indonesia, apa kira-kira yang akan terjadi?

© PPIA-JCU

Friday, February 08, 2008

jika sang pencari berita jalan-jalan...

gustaf dan hp baru-nya (note: kacamata juga baru, frame biru, dan ups.. jatuh.. apakah harus membeli lagi yang baru ? )

Refectory JCU, kantin favorit mahasiswa (karena murah meriah), masih sepi lantaran liburan belum usai. Tapi bagi riset student yang tidak sempat masak dan prepare bekal lunch, Refectory re-opening selalu dinanti. Lihat saja.. kursi-kursi masih tersusun rapi. Ada yang baru sih.. Refectory kini menyediakan mesin 'swalayan' red-bull dan juice 'Golden Circle' yang hampir tiap release 'rasa' baru langsung dicoba oleh beberapa juicer (penggemar juice).

Siang itu Gustaf tengah menikmati lunch ringan (yang berat kan 'nasi') di Refectory, tangannya sibuk menerima telpon lantaran ia baru saja 'back to campus' setelah sekitar 2 minggu on vacation. Senang hati sang pencari berita blog ppia jcu dan alumni ini bercerita tentang silaturrahmi yang menyenangkan di Indonesia Embassy di Canberra, diterima dengan sambutan menyejukkan hati oleh Pak Raudin Anwar (Minister Councillor Bagian Penerangan The Embassy) dan juga Minister Councillor Bagian Pendidikan dan Kebudayaan. Silaturrahmi ini kemudian berkembang menjadi ajang pembicaraan hangat tentang kegiatan PPIA JCU serta rencana kegiatan mendatang yang disambut supportive oleh Embassy; sambil juga mengingat kembali sekelumit cerita Pak Raudin yang hadir di Festival Indonesia di Townsville 25 Agustus 2007 lalu.

Dian (anggota tim redaksi blog ppia jcu juga) asyik mendengarkan cerita Gustaf meski sekian menit terpaku dan terpana memikirkan arti sebuah kata.. 'bola' yang dalam bahasa Manado berarti 'ban mobil". Mobil yang dikendarai Gustaf saat menuju Canberra sempat pecah ban.. pecah 'bola'.. ternyata saat sang pencari berita jalan-jalan, ia malah 'making the news'.. cerita selengkapnya silakan mengunjungi blog gustaf.

© PPIA-JCU

Tuesday, February 05, 2008

Welcome Back Yansen


Tak berselang lama dari kedatangan Bung Egy, Yansen kembali disambut gembira oleh warga Townsville mengingat kedatangannya langsung bersama keluarga yang menambah keramaian Townsville dan hanya 1 setahun saja sejak farewell Yansen November 2006 lalu. Kali ini di kediaman Pak Parjiono, kami pun saling berkenalan, makan malam, melepas rindu bagi yang sudah kenal keluarga ini sebelumnya serta mengobrol hingga menghabiskan pizza dan anggur (yang menghabiskan anggur siapa ya?? hehe..)

Yansen akan menjalani S3 nya mengenai Regeneration and recruitment patterns of several tropical tree species following fire disturbances.. good luck with your study.. semoga banyak lagi yang mengikuti jejak Yansen kembali ke JCU.. siapa lagi?

© PPIA-JCU