Sunday, July 22, 2007

Pentas di Riverway Festival 2007, Thuringowa

Setelah pementasan tahun lalu Tim Kesenian PPIA yang dikomandani Johanna Kodoatie mementaskan cerita Jaka Tarub, tahun ini merekapun tak ketinggalan unjuk kebolehan dengan menampilkan Tari Yapong. Kareografer pentas kali ini adalah Annie Daryani dan tim penari terdiri dari Annie, Icha, Angel dan Thessy. Pementasanpun tak kalah hangatnya dibandingkan kelompok tari lainnya. Antusias penonton tergambar lewat tepukan tangan yang meriah setelah selesai pertunjukkan. Di bagian depan barisan penonton, terlihat Presiden dan beberapa anggota kabinetnya yang tak mau kalah dalam memberikan semangat bagi warganya.

Photos at multiply (click for more)

© PPIA-JCU

Monday, July 16, 2007

Sherriff Park

Tempatnya terdengar menyeramkan bila get together diadakan pada zaman Wild West dulu, karena pasti takkan jauh dari yang namanya penjara dan kekerasan karena biasanya jail berada di dalam kantor sang Sheriff. Namun Sherriff Park, Ross River-Townsville agaknya terlalu jauh dari kesan seram (kecuali malam kali' ya?). Sabtu, 14 Juli lalu PPIA-JCU memrakarsai pertemuan rutin dengan warga Indonesia yang berada di Townsville dan sekitarnya. Namun, warga yang datang malah ada yang berasal dari Ingham (107 kms North of Townsville) dan bahkan warga negara tetangga, Malaysia.

Pertemuan ini bukan sekedar rutinitas belaka karena di dalamnya ada keceriaan plus tangis yang tertahan. Ceria karena warga Townsville-Thurringowa kedatangan beberapa warga baru, di sana ada Puji dan Zen (yang gak sempat berkenalan pada pertemuan sebelumnya, Tony dari Universitas Nusa Cendana Kupang, Vivi sang dokter yang baru bertugas di Townsville Hospital, saudaranya pak Erwin, dan sepasang kekasih baru yang tinggal di Ingham. Tak lama, keceriaan berubah karena ada kata perpisahan dari beberapa teman yang selesai studi; di sana ada Pak Jack, Keluarga Aryadi dan Keluarga Pieter Lepong. Selamat jalan guys!

http://ppiajcu.multiply.com/(klik for more....)

© PPIA-JCU

Sunday, July 15, 2007

Mas Pram dan Burungnya…

Setelah lebih dari tiga tahun merantau di Cairns, North Queensland Australia, dan menjalani field research termasuk me-nongkrongi atap bangunan (juga candi Prambanan?) mas Pramana Yuda (tergantung bacanya gaya Sunda, Jawa, ato Bali) akhirnya kelar melaksanakan exit seminarnya tentang Ecology and conservation of the Java sparrow (Padda oryzivora) hari Selasa, 10 Juli 2007 yang lalu. Saya dan Dian dengan semangatnya datang ke room DA 009 - 001 di kampus Townsville... dan menemukan bahwa yang datang ternyata cuman kita berdua, plus mantan supervisornya mbak Miki (Prof Ross Crozier). Ya wis, bertiga ya bertiga menikmati teleconference dari Cairns di Townsville (yang di ruang conference Cairns sih ramai).

Presentasi mas Pram tentang sang burung Gelatik Jawa (yang rajin ‘sembahyang Maghrib’ hehe...) sangat menarik, terutama dari sudut pandang conservationist kayak saya. Dan saya harus akui, saya salut dengan powerpoint mas Pram yang bersih, enak dibaca (hurufnya besar, dan tidak menuh-menuhin layar) dan renyah isinya. Plus, kata Madam President Dian Latifah, mas Pram pake baju batik kebangsaannya.



Segala genetik, saya ga usah bahas ya. Ora dhong detile. Tapi yang jelas penelitiannya mas Pram menemukan bahwa sang burung gelatik jawa yang nama latinnya Padda oryzivora ini ternyata berasal dari satu dua kawasan yang berdekatan di Prambanan dan sekitarnya, dan pada masa inter-glacial terakhir menyebar ke tempat-tempat lain, walaupun masih di Jawa saja (Bali ada ya? Lupa saya... ga ada pptnya sih...). Status konservasi sekarang vulnerable, dan terancam bisa ‘upgrade’ ke endangered kayaknya, kalo perburuan demi menyenangkan hati para pecinta sangkar dan burung dalam sangkar tetap berlanjut seperti sekarang (On that note, saya sempat menyanggah mas Pram bahwa strateginya sebaiknya adalah mendidik para pecinta burung sangkar itu, bukannya memasukkan gelatik jawa dari Kalimantan – yang kayaknya migrasi ke sana karena dibawa orang...).


In any case, excellent presentation. Detilnya minta mas Pram, sebelum beliau balik ke Indonesia dan kehilangan akses broadband extra cepat... hiks! Dan belajar dari mas Pram cara buat presentasi yang enak dipandang mata, dan tidak nyumpek2in pemirsa karena kebanyakan huruf. By the way, saya senang dengan referensi perangko-perangko dari segala penjuru dunia yang menggambarkan gelatik jawa (buset, ngetop juga tuh burung!) dan juga tentang Jepang, bahwa orang Jepang ternyata mengadopsi sang gelatik jawa dalam lukisan-lukisan mereka. Aduh, lutuna....lutuna... (baca: Lucunya).

.. dan tepat pada tanggal peluncuran catatan Putu Liza ini.. Mas Pram beserta keluarga terbang bersama burung baja "Java Sparrow" kembali ke tanah air tercinta.. di email terakhir Mas Pram sebelum berangkat dari Cairns.. Mas Pram missed much many Javanese-local foods..

Pic 1: Java Sparrow, dari sini

Pic 2: Mas Pram seminar, dari Dian Latifah

Pic 3: ukiyo-e (Japanese painting), oleh Ryuu Shimazazi ("Java Sparrow"), 1912 dari sini


© PPIA-JCU

Thursday, July 12, 2007

Dia datang tak bicara tentang bencana yang akan datang karena dia bukan seorang paranormal, namun dia berbicara akibat dari bencana. Indonesia yang rentan akan bencana mengakibatkan ketakseimbangan ekologis bisa terjadi di berbagai tempat. Contoh sederhana namun kasat mata adalah: bertumbangnya pepohonan akibat bencana! Efek ekologisnya jelas; mulai dari kehilangan habitat bagi sebagian organisme penghuninya sampai pada bencana susulan seperti erosi dan banjir. Pertanyaannya: seberapa cepatkah ekosistem yang rusak itu bisa recover? Bagaimana struktur populasinya? Sejauh manakah bencana itu mempengaruhi sebaran bibit? Pertanyaan-pertanyaan ini sebaiknya diarahkan kepada seorang Dian Latifah. Dengan mengambil studi kasus areal terjangan Cyclone Larry di tahun 2006 pada sebaran beberapa jenis palem, Dian Latifahpun menghipnotis penguji dan pengunjung dalam PhD Confirmation seminar yang dilaksanakan tanggal 20 Juni lalu. Topiknya adalah: Population structure and regeneration of palms (Arecaceae) in response to cyclone disturbances North Queensland, Australia. Diapun menyatakan bahwa struktur populasi yang ditelitinya malah bukan saja karena cyclone, namun akan dikembangkan dengan meneliti faktor lain yang mendukungnya seperti peran burung Kasuari (Cassowary, genus Casuarius) dalam sebaran benih.

Good luck Ibu presiden!


© PPIA-JCU

Saturday, July 07, 2007

Adalah langkah yang bijaksana bila ada yang bermasalah dengan reproduksi datang berkonsultasi kepada seorang Jacob Uktolseja. Reproduksi yang dimaksud adalah reproduksi ikan. Jumat, 6 Juli 2007 Jacob berhasil menempuh PhD exit seminar dengan keyakinan yang luar biasa. Topik yang ditelitipun tak kalah luar-biasanya:
Effect of nutrition on the reproduction of male Barramundi (
Lates calcarifer, Bloch),
yang intinya mencari formula yang tepat untuk meningkatkan reproduksi dari pejantan Barramundi.

© PPIA-JCU

Sunday, July 01, 2007

Global Warming, comments by Al Gore

Talking about global warming, let's spend just a bit time to digest what Al Gore, as a politician, stated:

Our home — Earth — is in danger. What is at risk of being destroyed is not the planet itself, but the conditions that have made it hospitable for human beings.

Without realizing the consequences of our actions, we have begun to put so much carbon dioxide into the thin shell of air surrounding our world that we have literally changed the heat balance between Earth and the Sun. If we don’t stop doing this pretty quickly, the average temperature will increase to levels humans have never known and put an end to the favorable climate balance on which our civilization depends.

In the last 150 years, in an accelerating frenzy, we have been removing increasing quantities of carbon from the ground — mainly in the form of coal and oil — and burning it in ways that dump 70 million tons of CO2 every 24 hours into the Earth’s atmosphere.

The concentrations of CO2 — having never risen above 300 parts per million for at least a million years — have been driven from 280 parts per million at the beginning of the coal boom to 383 parts per million this year.

As a direct result, many scientists are now warning that we are moving closer to several “tipping points” that could — within 10 years — make it impossible for us to avoid irretrievable damage to the planet’s habitability for human civilization.

Just in the last few months, new studies have shown that the north polar ice cap — which helps the planet cool itself — is melting nearly three times faster than the most pessimistic computer models predicted. Unless we take action, summer ice could be completely gone in as little as 35 years. Similarly, at the other end of the planet, near the South Pole, scientists have found new evidence of snow melting in West Antarctica across an area as large as California.

This is not a political issue. This is a moral issue, one that affects the survival of human civilization. It is not a question of left versus right; it is a question of right versus wrong. Put simply, it is wrong to destroy the habitability of our planet and ruin the prospects of every generation that follows ours. more...

Source: The New York Times, July 1st 2007 edition


© PPIA-JCU